KEDAI BUKU JENNY

Buzzer yang Dipecat

7:36 AM 0
Buzzer yang Dipecat
Oleh: Harlan Boer
Area merokok sebuah gerai donat, tempat Piy biasa menghabiskan waktu bekerja. Kipas angin di langit-langit berputar konstan dengan suara seperti meringkik. Suara itu turut menenggelamkan kegundahan Piy. Di meja, kopi hitamnya sudah lama tidak mengepul. 
Ini cangkir kedua. Isi: seperapat.
Piy menyisir rambutnya yang ikal dengan jari. Jari yang agak dingin dan rambut yang agak basah. Hitam.
Kemeja Piy kali ini sedikit kusut. Celana bahannya masih seperti yang ia kenakan sejak tiga hari lalu. Hitam. 
Piy masih bersama pikirannya. Hitam.
Sepatu kanannya ia ketuk-ketukkan ke lantai. Hitam.
Piy mencabut satu helai janggutnya. Putih.
Di depan Piy, tampak seorang gadis bersepatu roda melintas. Gadis muda yang ingin bugar dan bergaya. Sepatu rodanya berwarna hijau cerah dengan sedikit aksen garis. Hitam. 
Konsentrasi gadis itu buyar ketika menoleh ke arah Piy. Kepalanya bertanya,”Mengapa bapak-bapak itu tampak begitu kusut? Ada masalah apa, ya? Sepertinya pikirannya hitam….”
Gadis itu larut dalam pertanyaannya, tidak sadar bahwa ia terus meluncur mendekati sebuah pohon tempat Amros dan Emros bersantai sambil bermain catur. Sebetulnya tidak terlalu santai juga, sebab Amros dan Emros banyak memikirkan langkah-langkah mendatang.
Gelinding sepatu roda sama sekali tidak macet. Gadis itu semakin mendekat pohon….
Amros tampak terdesak. Pionnya dalam bahaya. Sedangkan Emros terus mengamati ke mana jari Amros akan mengangkat biduk caturnya. Mata Emros melotot meskipun ia kurang tidur akibat semalam tetangganya terus menerus berlatih pianika.
“Aduh!”
Amros dan Emros serentak menengok. Gadis itu menabrak pohon dan terjengkang.
Piy masih terus gundah. Hitam.
“Sakit, Neng?” tanya Amros.
“Pasti sakit, Amros,” jawab Emros.
Gadis itu masih terkapar. Putaran roda-roda di sepatunya semakin melemah.
“Pasti sakit, ya, Emros?” tanya Amros.  
“Ya, aku pikir begitu,” jawab Emros.   
 Pak Khaidir, mantan psikiater, menelepon Amros. Suaranya agak cempreng. 
”Halo Amros..”
“Halo Pak Khaidir.”
“Lagi apa?”
“Main catur.”
“Lawan siapa?”
“Emros, Pak Khaidir.”
“Oh, si Emros…”
“Iya…”
“Kapan-kapan lawan saya, dong…”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Emros jago, nggak?”
“Jago, Pak Khaidir.”
“Kalau gitu, kapan-kapan saya lawan Emros saja!”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Baiklah, kalau begitu, silakan dilanjutkan main caturnya.”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Oh, ya, Amros… Kamu kurang jago, ya, main catur?”
“Sudah lama nggak latihan, Pak Khaidir.”
“Oh, begitu. Latihan yang rajin, ya, Amros…”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Oke kalau begitu, saya udahan dulu, ya, neleponnya.”
“Kenapa, Pak Khaidir?”
“Saya mau pergi.”
“Oh, begitu…”
“Iya…”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon ditutup. Sesaat kemudian HP Amros berbunyi lagi.
“Halo?”
“Eh, Amros…”
“Iya, Pak Khaidir, ada apa?”
“Maaf, kepencet.”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon ditutup. Sesaat kemudian HP Emros berbunyi.
“Halo?”
“Halo, Emros?”
“Iya. Ini siapa, ya?”
“Pak Khaidir…”
“Oh, Pak Khaidir. Ya, ada apa, Pak Khaidir?’
“Kamu lagi main catur, ya, lawan Amros?”
“Iya, Pak Khaidir…”
“Seru?”
“Seru, Pak Khaidir.”
“Amros jago, nggak, mainnya?”
“Jago, Pak Khaidir.”
“Beneran jago?”
“Iya, Pak Khaidir. Jago!”
“Asli?”
“Asli!”
“Oh, begitu…”
“Memangnya kenapa, Pak Khaidir?”
“Nggak…”
“Nggak apa, Pak Khaidir?”
“Tadinya saya mau ajak kamu main catur lawan saya…”
“Oh, boleh, Pak Khaidir. Mau kapan?”
 “Tapi, Amros jago?”
“Jago, Pak Khaidir!”
“Apa saya lawan Amros saja, ya?”
“Wah, silakan, Pak Khaidir.”
“Kamu nggak apa-apa?”
“Memangnya kenapa, Pak Khaidir?”
“Kamu gak kecewa?”
“Nggak, kok, Pak Khaidir.”
“Betul?”
“Betul.”
“Sungguh?’
“Sungguh.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Kalau begitu, udahan dulu, ya, teleponnya?”
 “Terserah, Pak Khaidir.”
“Ok.”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon ditutup.
Gadis bersepadu roda mulai siuman. Teleponnya berbunyi.
“Halo?”
“Halo.”
“Apa kabar gadis bersepatu roda?”
“Saya habis nabrak pohon.”
“Lalu?”
“Pingsan.”
“Lalu?”
“Siuman.”
“Lalu?”
“Pak Khaidir menelepon saya.”
“Oh, begitu…”
“Iya, Pak Khaidir…”
“Ya, ya, ya..”
“Kenapa, Pak Khaidir?”
“Kenapa apa?”
“Kenapa menelepon?”
“Oh..”
“Oh, apa, Pak Khaidir?”
“Itu, saya mau ngajak kamu main catur.”
“Kapan, Pak Khaidir?”
“Kapan kamu siap…”
“Saya selalu siap, Pak Khaidir!”
“Tapi kamu baru saja siuman…”
“Sudah segar, Pak Khaidir!”
“Betulkah?”
“Betul, Pak Khaidir!”
“Sepatu roda kamu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, Pak Khaidir!”
“Syukurlah…”
“Iya, Pak Khaidir.”
“Warnanya masih hijau?”
“Masih, Pak Khaidir.”
“Tidak berubah, ya?”
“Tidak, Pak Khaidir.”
“Bukannya hitam?”
“Ada hitamnya sedikit, Pak Khaidir!”
“Baiklah, kalau begitu. Tapi, kamu sudah tambah jago belum main caturnya?”
“Belum, Pak Khaidir.”
“Belum?”
“Iya, belum.”
“Masih seperti minggu lalu?”
“Masih, Pak Khaidir. Mungkin menurun…”
“Kenapa menurun?”
“Karena tidak dilatih lagi, Pak Khaidir.”
“Terlalu sibuk dengan sepatu roda?”
“Tidak juga, Pak Khaidir.”
“Lalu kenapa?”
“Tidak ada lawannya, Pak Khaidir.”
“Tidak coba main online?”
“Belum, Pak Khaidir.”
“Tidak berlatih jurus sendirian di kamar?”
“Tidak, Pak Khaidir.”
“Oh, begitu…”
“Iya…”
“Hmmm….”
“Gimana, Pak Khaidir?”
“Nanti saya telepon lagi, ya…”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon ditutup. 
Area merokok sebuah gerai donat, tempat Piy biasa menghabiskan waktu bekerja. Kipas angin di langit-langit berputar konstan dengan suara seperti meringkik. Suara itu turut menenggelamkan kegundahan Piy. Di meja, kopi hitamnya sudah lama tidak mengepul. 
Ini cangkir ketiga. Isi: nyaris tandas.
Piy masih bersama pikirannya. Hitam.
Sepatu kanannya ia ketuk-ketukkan ke lantai. Hitam.
Piy mencabut satu helai janggutnya. Putih.
Telepon berbunyi.
Piy melihat nama di layar posel. Tidak diangkatnya.
“Mas, mau tambah minum?” tanya penjaja donat. Diseragamnya tertulis namanya: Hania.
“Belum, Hania.”
“Saya bukan Hania. Tadi pagi saya terburu-buru berangkat ke sini, lupa membawa seragam kerja. Ini saya pinjam punya teman saya, Hania. Nama saya Tina, Mas.”
Piy tersenyum kecil-kecilan. Tina tersenyum sedikit lebih besar. 
Telepon Tina berbunyi. 
“Halo?”
“Sebentar, ya, Mas, saya jawab telepon dulu, “ ujar Tina sopan kepada Piy.
Piy mengangkat tangan tanda mengerti.
“Ya, halo?”
“Apa kabar, Hania?”
“Saya bukan Hania, saya Tina.”
“Oh, iya, Tina…”
“Lupa, ya, Pak Khaidir?”
“Tadi lupa. Sekarang tidak.”
“Ada apa, Pak Khaidir?”
“Tina sedang sibuk?”
“Ya, sibuk biasa, Pak Khaidir.”
“Di gerai donat?”
“Iya, Pak Khaidir.”
“Hari ini kamu makan donat?”
“Belum Pak Khaidir.”
“Jadi makan apa?”
“Ya, ada lah, Pak Khaidir.”
“Oh, ya, ya…”
“Kenapa, Pak Khaidir?”
“Saya mau ajak kamu main catur…”
“Sekarang, Pak Khaidir?”
“Sekarang saya lagi main catur.”
“Oh, jadi kapan, dong, Pak Khaidir?”
“Kapan, ya?”
“Lho, kok malah tanya saya?”
 “Saya lihat jadwal saya dulu, ya, Hania..”
“Tina, Pak Khaidir.”
“Oh, iya, Tina.”
“Lupa, Pak Khaidir?”
“Tadi lupa. Sekarang tidak.”
“Baik, Pak Khaidir.”
“Nanti saya hubungi lagi, ya?”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Tapi kamu sudah makin jago main caturnya?”
“Sedikit, Pak Khaidir.”
“Oh, ya? Surprise, saya..”
“Begitulah, Pak Khaidir.”
“Baiklah, nanti saya telepon lagi, ya, Hania?”
“Tina, Pak Khaidir.”
“Oh, iya, Tina.”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Nanti caturnya pakai punya saya saja.”
“Siap, Pak Khaidir.”
“Saya baru beli papan catur.”
“Impor, Pak Khaidir?”
“Lokal.”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Terakhir main, benteng kamu mati, ya?”
“Dua-duanya, Pak Khaidir.”
“Bukan satu?”
“Dua, Pak Khaidir.”
“Oh, ya, ya.”
“Lupa, Pak Khaidir?”
“Tadi lupa. Sekarang ingat.”
“Sip, Pak Khaidir.”
“Baiklah Tina, udahan dulu, ya. Lawan saya sudah menunggu langkah saya.”
“Terdesak, Pak Khaidir?”
“Tidak.”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon dimatikan.
Diam-diam Piy memperhatikan obrolan itu, kemudian dia ingin menumpahkan kekusutannya.
“Tina?”
“Ya, Mas?”
“Kamu tahu kenapa saya bingung?”
“Mas lagi bingung?”
“Iya.”
“Kenapa, Mas?”
“Saya dipecat jadi buzzer.”
“Wah!”
“Ya!”
Pandangan Piy kembali menerawang, matanyanya kosong. Tina bisa melihatnya.
“Kenapa Mas dipecat?”
“Saya tidak tahu.”
“Padahal Mas jago?”
“Mungkin bukan jago,” Piy merendah, ”tapi berpengalaman.”
“Apa karena budget untuk buzzer dikorupsi?”
“Oh, itu hoaks,” jawab Piy cepat.  
Tina mengangguk-anggukan kepala.
Di depan mereka, tampak seorang gadis bersepatu roda melintas. Gadis muda yang ingin bugar dan bergaya. Sepatu rodanya berwarna hijau cerah dengan sedikit aksen garis hitam. Jidatnya diperban.

Berhitung Mundur Menuju Album FSTVLST II : Menyoal Etos Keterlibatan

6:34 PM 0
Berhitung Mundur Menuju Album FSTVLST II : Menyoal Etos Keterlibatan
Sumber : https://www.instagram.com/fstvlst/
Beberapa tahun lalu, sebelum akhirnya album HITS KITSCH tiba di tangan saya di suatu sore yang mendung, saya pernah menulis untuk blog FSTVLST tentang bagaimana idealnya menjadi penunggu yang baik. Saat itu saya menjadi penyaksi bagaimana hampir setiap malam ketika Gulita Benderang memberikan kesempatan untuk bertanya apa saja dan yang memenuhi lini masa adalah pertanyaan kapan album baru dirilis. Atau di hampir semua panggung yang saat itu belum seproduktif beberapa tahun terakhir, maspak Gulita Benderang dengan sabar terus meyakinkan kepada para pengantusias FSTVLST bahwa masa itu akan datang.

Tulisan yang saya lupa bertajuk apa persisnya itu kira-kira berisi tips sederhana untuk menjadi bagian dari album yang ditunggu. Ketimbang menjadi penunggu pasif dan tak berbuat apa-apa untuk sesuatu yang dinanti, lebih baik menjadi penunggu aktif dengan mengirimkan sebanyak-banyaknya sinyal berupa cerita, attitude di depan panggung, obrolan akrab setelah panggung rendah tanpa barikade atau lewat medium apa saja yang harapannya dengan menjadi amunisi bagi karya yang dinantikan lama saat itu.

Ajakan bagi teman-teman Festivalist untuk terlibat dan menjadi bagian dari album baru yang saat itu masih berbentuk tanda tanya, meski penandanya yang dimulai dengan Tuhan, Setan atau Malaikat (yang kemudian menjadi Tanah Indah untuk Para Terabaikan) dan kemudian Hari Terakhir Peradaban sudah mengudara, tentu bukan hanya inisiatif tanpa preseden.

Sejak pertama kali bertemu Jenny 10 tahun lalu yang kemudian bermetamorfosa menjadi FSTVLST tak begitu lama setelah perjumpaan pertama yang selalu saya syukuri itu, pelibatan dan keterlibatan para pengantusias yang kemudian diberi nama Festivalist atau Teman Pencerita, Klub Mati Muda di era Jenny telah menjadi serupa etos yang mewajah dalam bentuk-bentuk yang sederhana namun membekas. Paling tidak bagi saya dan tentu banyak teman yang menjadi bagian dari kisah panggung-panggung penuh peluh plus “dakwah” singkat tentang keseteraan, kebahagiaan yang sederhana yang kemudian selalu berakhir dengan sangat kosmopolit di Angkringan Pak Tegho yang setara itu. 

Dan menariknya karena ruang kemungkinan untuk pelibatan tersebut tak melulu berharap pada kehendak alam sehingga semuanya tak selalu berjalan alamiah dan insidentil. Sebaliknya ruang-ruang tersebut adalah hasil dari konstruksi dan buah pikir bersama. Saya ingat benar bagaimana teman-teman Festivalist menginisiasi Buka Puasa bersama yang diawali dengan gigs mikro nan sederhana di depan sebuah distro yang tak jauh dari UNY. Yang kemudian diulangi lagi di tahun berikutnya. Momentum seperti ini tentu tidak hanya tentang “bertemu dengan band idola”, tapi lebih jauh tentang sebuah etos yang mesti diperjuangkan bersama. Etos menjadi setara dengan cara-cara yang sederhana.

Sekelumit kisah diatas tentu hanya sedikit dari banyak inisiatif dengan nafas serupa yang menariknya kini berbentuk dalam banyak cara dan strategi. Termasuk saat album HITS KITSCH dan kemudian Album FSTVLST II hendak dirilis. 

Kalau teman-teman memperhatikan dengan jeli, etos pelibatan juga dikonstruksi FSTVLST saat hendak merilis HITS KITSCH dengan membuka dapur proses kreatif album tersebut dengan segala detailnya yang sungguh untuk strategi taktik pemasaran sangatlah ciamik. Targetnya memang seolah hanya agar setiap orang dapat menghargai karya dan karenanya malu melakukan hal-hal yang alih-alih menunjukkan cinta namun sebenarnya luka bahkan dalam bentuk yang paling lunak dengan rajin bertanya “bisa minta link download gak mas?”. Namun bagi saya siasat ini adalah bagian dari pelibatan tersebut. Pelibatan yang (harusnya) mampu memangkas jarak eksklusifitas dengan tidak penting antara band dan para pengantusias. 

Siasat serupa kembali ditempuh FSTVLST di detik-detik menghitung mundur menuju album FSTVLST II. Tak percaya? Silahkan lacak apa yang sudah dilakukan kolektif ini sejak mereka mulai melempar beberapa nomor lagu di album berikutnya secara gratis seperti udara di pagi hari dengan syarat yang lebih mudah dari membuat akun Tiktok pertamamu. Kamu cukup menuliskan biodata singkatmu dan kemudian kamu tercatat menjadi bagian dari penyebarluasan karya. Setelah itu silahkan menikmati karya-karya yang tersedia. Hingga yang paling anyar, ajakan untuk menabung lima puluh ribu untuk password memiliki rilisan yang semoga akan segera rilis. 

Sumber: https://www.instagram.com/fstvlst/
Selain sebagai strategi branding, bagi saya inisiatif-inisiatif ini adalah bagian dari siasat untuk bercakap dengan para pengantusias FSTVLST. Temanya masih sama, masih di seputar hal-hal keseharian dan yang kita hidupi sehari-hari. Dan berbagai inisiatif untuk terus menghelat percakapan dengan banyak medium yang dilakukan FSTVLST saya kira adalah upaya lain untuk memberi wajah nyata dari karya-karya mereka sejak Manifesto hingga yang Kedua nanti. Tak percaya lagi? Coba perhatikan dengan seksama nomor-nomor yang sudah bisa kamu unduh seperti Gas!, Rupa, Mesin dan lainnya.

Akhirnya, ini masih tentang ajakan untuk terlibat bersama dan “menghidupi” FSTVLST dengan terus menginisiasi percakapan dengan cara kita masing-masing serta terus merayakan hari-hari yang nampaknya belakangan ini tak begitu mudah kita jalani. Mungkin dengan begitu kita akan bisa saling menguatkan.

Mari menunggu.

Belia Pagi
Wesabbe, 15 Juni 2020

Urban Social Forum Sambang Kota Makassar

12:18 AM 0
Urban Social Forum Sambang Kota Makassar

Penulis: Ikrana

Surel kami dibalas setelah sebelas hari kami menunggu jawaban. Surel tersebut membawa pesan yang membuat saya sulit untuk tidak tersenyum; sekretariat Urban Social Forum menyambut ajakan kami untuk bekerjasama dan akan menyelenggarakan forum tersebut di Makassar. Saya langsung menghubungi beberapa kawan bahwa sebentar lagi forum yang tiap tahun menjadi impian kami akan segera hadir di kota ini, dan kita sendiri yang akan menyelenggarakannya. Saling membalas surel kemudian berganti menjadi percakapan lewat telepon. 

Tadinya, menghadiri Urban Social Forum adalah gagasan yang sangat jauh bagi saya. Sempat satu dua kali bayangan itu terasa nyata, dengan niat menyisihkan separuh dari uang jajan agar biaya perjalanan tak perlu membebani orang tua. Namun, hal tersebut tidak pernah terjadi. Satu-satunya hal yang bisa saya dan kawan-kawan lain lakukan adalah menitip buah tangan khas USF, entah itu kaos atau sekadar sticker, kepada satu atau dua orang kawan yang beruntung bisa mencapai Semarang atau Solo dengan biaya yang tentu saja tidak sedikit. Hingga akhirnya program Sambang Kota yang diusung oleh sekretariat USF di tahun ini membuat bayangan itu menjadi benar-benar nyata.

Hari-hari setelah surel tersebut dibalas kemudian menjadi hari-hari panjang mempersiapkan forum tersebut dengan sebaik-baiknya. Tantangan kami yang pertama adalah mencari fokus bahasan diskusi yang akan disajikan. Masalahnya, permasalahan urban apa sih yang Makassar tidak punya? Moda transportasi publik? Terpenuhinya hak atas perumahan yang layak? Penggusuran? Banjir? Hak pejalan kaki? Ruang terbuka hijau yang inklusif? Ya tentu saja hampir semua kota besar di Indonesia juga mengalami permasalahan yang serupa. 

Namun, untuk menentukan fokus bahasan diskusi yang bisa memantik keresahan warga Makasssar sepertinya menjadi satu hal yang harus kami pikirkan baik-baik. Kemacetan sudah menjadi hal yang normal, sebagai akibat dari meningkatnya pembelian kendaraan pribadi, juga sebagai akibat dari tidak tersedianya sistem transportasi publik yang layak bagi masyarakat. Banjir dan sampah sepertinya cukup Dinas Lingkungan Hidup dan truk Tangkasaki saja yang memikirkannya. Tidak usah pula repot-repot memikirkan trotoar untuk pejalan kaki yang juga inklusif bagi penyandang disabilitas, tidak akan ada yang sanggup berjalan kaki di bawah teriknya matahari Makassar. Kewajaran-kewajaran tersebut telah menjadi narasi dominan, dipercaya dan diyakini oleh lebih dari separuh warga Makassar yang sehari-harinya berjibaku di sepanjang jalan A.P. Pettarani, yang sampai hari ini masih dipenuhi alat berat untuk membangun tol layang.

Begitulah, diskusi dan pembahasan berlangsung berhari-hari, beberapa kali diubah, ditambah dan dikurangi, hingga akhirnya kami memutuskan untuk membumikan tiga tema besar, yakni mengenai ruang publik yang demokratis, politik kewargaan dan perubahan wajah Makassar, serta bagaimana membangun koalisi gerakan sosial demi berlanjutnya hal-hal baik yang saat ini telah banyak dimulai oleh masyarakat di akar rumput. Meskipun terkesan sedikit ambisius, kami mengusung tiga tema besar ini dengan harapan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan permasalahan-permasalahan yang lebih spesifik, yang tindak lanjutnya masih kami pikirkan akan bagaimanakah bentuknya di kemudian hari.

Setelah selesai membangun ide besar, menentukan waktu dan lokasi, serta memastikan kehadiran seluruh narasumber dan pengisi acara, kami dengan seluruh komunitas yang terlibat dalam penyelenggaraan forum ini kemudian bertemu di tanggal 6 Februari untuk mempersiapkan hal-hal yang lebih teknis. Petang itu Rumata’ Art Space disibukkan oleh aktivitas pasang-memasang spanduk acara, mendiskusikan sirkulasi dan mobilitas peserta diskusi, serta pengaturan panggung untuk acara di malam hari. Semua bersemangat dan seperti tidak sabar untuk menyambut hari esok, walaupun hari itu kami pulang ke rumah masing-masing dengan tubuh yang kelelahan, dan dengan harapan bahwa besok langit akan cerah. Kami berjanji untuk berkumpul lagi pukul 9 pagi.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Sebelum matahari 7 Februari terbit, pukul 4 subuh langit Makassar bergemuruh dan menangis sejadi-jadinya. Gemuruh tersebut mampu membangunkan saya dan membuat saya lemas, membayangkan bagaimana kami akan tetap mempersiapkan dan melakukan segalanya di bawah gelapnya langit Makassar. Namun, ada sedikit harapan bahwa biarlah subuh ini Makassar menghabiskan sedihnya, siang nanti pasti akan cerah kembali. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Hingga pukul 8 pagi, hujan Makassar tidak kunjung berhenti. Di sepanjang perjalanan menuju Rumata’ Art Space, lirik lagu GAS! oleh FSTVLST terus terngiang di kepala saya.

Berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa
dan jalan satu-satunya jalani sebaik kau bisa

Baris di lagu tersebut seperti menjadi mantra dan barangkali menjadi cara bagi saya untuk menghibur diri sendiri. Namun tetap saja, saya tidak bisa menyembunyikan raut kecewa. Saya memasuki ruang utama di Rumata’ Art Space disambut oleh kawan-kawan lainnya yang telah lebih dulu datang. Melihat bagaimana mereka tetap menjalankan dan mengerjalan semuanya, lagu Gas! terngiang semakin kencang di kepala saya. Pesan semangat dikirimkan oleh Kak Nita yang tidak sempat hadir, diikuti harapan bahwa semoga langit memberkati. Tidak ada jalan lain selain bersahabat dengan cuaca hari ini, lalu mengubah total konsep acara yang seharusnya ber-setting outdoor. Selepas ibadah salat Jumat, peserta diskusi rupanya berdatangan. Kawan-kawan datang dengan pakaian dan rambut basah sebagian. Namun, mereka tetap mengisi lembaran registrasi, menulis sesuatu di sticky notes, menaruh di dinding yang telah kami sediakan, lalu duduk di salah satu kursi menghadap ke layar.

Satu-persatu berdatangan dengan payung dan jas hujan, hingga tanpa disadari ruang utama Rumata’ Art Space menjadi penuh dan kami harus menyediakan kursi tambahan. Sementara ruang utama sudah siap digunakan untuk menjadi lokasi diskusi Panel 1, sebagian kawan kami masih sibuk berurusan dengan genangan air di teras belakang untuk mempersiapkan lokasi diskusi Panel 2. Kerasnya suara hujan bertemu kanopi teras menjadi irama yang mengiringi kawan kami mengeringkan kursi-kursi tong yang sehari sebelumnya telah diangkut dari Kedai Buku Jenny.



Walaupun mesti bersusah payah menaikkan volume suara, masing-masing pembicara di setiap panel tetap mempersembahkan materi terbaiknya untuk memantik peserta diskusi. Membagikan pengalaman dan pengetahuannya tentang kota dan tentang Makassar. Di Panel 1 ada Bapak Dr. Andi Faisal, S.S., M.Hum. serta Ibu Sri Aliah Ekawati S.T., M.T., yang membahas mengenai ruang publik di Makassar. Diskusi diawali oleh curhatan peserta diskusi mengenai pengalamannya dengan ruang publik di Makassar, baik itu yang bersifat fisik maupun non fisik. 

Peserta lebih banyak bercerita mengenai sulitnya menemukan ruang publik selain yang ada di dalam kawasan perumahan elit. Pak Faisal akhirnya menjelaskan mengenai keterkaitan antara ruang dan kapitalisme, serta bagaimana hubungan keduanya akhirnya menciptakan ruang yang semakin abstrak dan homogen. Ibu Aliah menambahkan penjelasan mengenai hal tersebut dengan memberikan satu contoh yang terjadi di kawasan Pantai Losari. Pantai Losari dulunya adalah ruang publik yang luas dan memanjang. Namun, saat ini hampir lebih dari separuh kawasan tersebut diprivatisasi, dibangun hotel dan restoran, serta pembangunan Centre Point of Indonesia.

Sementara itu, Panel 2 yang berlangsung di halaman belakang Rumata’ diisi oleh Slamet Riadi, Nurhady Sirimorok, Edi Ariadi, serta perwakilan dari ARKOM Makassar. Panel ini diawali oleh keresahan dari beberapa peserta diskusi terkait perubahan wajah Makassar yang tentu saja merugikan dan semakin meminggirkan kelompok-kelompok rentan di kota ini. 

Slamet Riadi sebagai pembicara pertama kemudian memaparkan keterangan mengenai dua hal yang menjadi momok dalam mempengaruhi Kota Makassar, yakni pembangunan yang semakin masif dan tidak terarah serta banyaknya ruang-ruang publik yang beralih fungsi menjadi ruang privat.

Nurhady Sirimorok bahkan menambahkan bahwa pada akhirnya perubahan tersebut akan membuat kita semua menerima dan beradaptasi pada penutupan ruang-ruang publik. Kota makassar mengalami gentrifikasi (semakin banyak kawasan di kota yang hanya diisi oleh fasilitas-fasilitas yang hanya bisa dijangkau oleh kalangan tertentu) yang mana orang-orang miskin hanya bisa mengakses perumahan yang jauh dari kota dan semakin hari akan semakin jauh. Hal tersebut kemudian mengafirmasi bahwa mekanisme kapitalisme yang ada di Makassar akan terus beputar sampai ada kekuatan lain yang dapat menghentikannya.

Panel ini banyak mendiskusikan perihal pengorganisasian politik kewargaan yang dapat dilakukan, hingga akhirnya dapat menjadi sebuah kekuatan yang mampu menghentikan proses-proses yang banyak meminggirkan kaum rentan tadi. Akhirnya seluruh peserta berkumpul kembali di ruang utama di diskusi panel ketiga, untuk membahas strategi, metode, hingga berkoalisi demi terwujudnya gagasan another city is possible.

Menuju petang hujan berhenti turun dan guntur berhenti bergemuruh. Tersisa satu dua tetes yang jatuh dari dahan dan daun pohon di halaman belakang Rumata’ Art Space. Kami semua berpindah untuk mempersiapkan panggung, memindahkan pengeras suara dari ruang utama, dan juga mengangkat kursi-kursi. Beberapa pengisi acara malam telah berdatangan, sedangkan beberapa peserta diskusi yang bertahan dari siang hari justru beranjak pulang. Meskipun hujan tidak turun lagi, kami memilih menggunakan teras belakang berkanopi saja untuk acara malam. 

Teras tersebut berukuran setengah lapangan voli, dengan sebuah kedai kopi kecil di ujungnya. Kursi-kursi kami atur acak menghadap ke panggung. Namun, ukuran teras yang kecil dan terbatas ini justru menciptakan suasana yang lebih akrab dan intim. Semua orang saling menyapa satu sama lain, hingga tercipta kelompok-kelompok kecil yang asik dengan obrolannya masing-masing, sembari tetap memperhatikan pengisi acara yang bergantian mengisi panggung.

Dibuka oleh penayangan Animasi Kampung Kota Paropo 3S, cerita tentang Petepete di karya fotografi Aziziah Diah Aprilya, serta penayangan film The Netra(L) karya Ulfa Evitasari. Setelah ketiga karya visual tersebut, panggung kemudian diisi oleh penampilan Kolektif Pop. Karya visual, musik, serta kalimat demi kalimat disuguhkan kepada penonton yang hening. Di antara itu ada Kak Bob yang bercerita mengenai proses kreatif pembuatan karya mereka, serta pesan apa yang berusaha disampaikan. Panggung malam itu ditutup oleh suara merdu Om Has yang setahun terakhir jarang terdengar.

Di akhir tulisan ini kami berterima kasih kepada kawan-kawan yang telah memilih menjadi bagian dari Urban Social Forum Sambang Kota Makassar. Walaupun semakin hari Makassar menjadi kian asing dan sepertinya tidak peduli, mari kita bertemu lagi di forum lain untuk merawat dan tetap mengusahakan, karena another city is possible

Merancang Mesin (untuk) Manusia

11:46 PM 0
Merancang Mesin (untuk) Manusia
Dokumen Kapal Udara
Penulis: Harnita Rahman

Saya melihat musik sebagai produk budaya yang punya potensi membangun manusia. Melalui musik, entah bunyi nada, hentakan irama ataupun pilihan kata, bahkan proses penciptaan karya, secara bersamaan atau tidak, melalui hal tersebut, saya selalu berharap bisa menangkap sesuatu.

Berbicara, berpendapat, atau menentukan sikap politik melalui musik menurut saya adalah sesuatu yang lumrah. Toh sebuah karya tidak akan lepas dari tendensi penciptanya. Walau setelah  lepas landas dan menjadi sebuah produk ia akan punya kaki-kakinya sendiri yang melesat liar di tiap kepala yang tentu tidak akan melulu sama.

Mendengar secara utuh Mesin Manusia karya Kapal Udara di penghujung 2019, adalah serupa anugerah penutup tahun akan optimisme perjalanan musik mereka. Cerita ini bukan tentang panggung mereka yang semakin menanjak, semakin digandrungi dan membuat saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa tidak butuh lama band ini akan menjadi salah satu ikon musik di kota Makassar atau mungkin di Sulawesi.

Tapi seperti biasa, saya lebih senang mengulik sendiri bagaimana Mesin Manusia diantar dengan baik, dengan sama matangnya saat album pertama dilepaskan sekitar 2 tahun lalu.

Saya ingat bagaiamana Viny dan Ale menceritakan saat album ini baru akan dibicarakan. Gagasan mereka telah jelas saat itu, bahwa album ini akan bercerita tentang kelibat manusia yang mengubah kehidupan. Perang, pelaut, perempuan, mesin dan pekerja.

Gagasan ini menurut saya menjadi cerita babak selanjutnya setelah Seru dari Hulu bergema di nusantara. Seru dari Hulu yang bercerita tentang hulu kehidupan memang sepatutnya disambut dengan cerita bagaimana manusia bekerja.

Mesin Manusia dalam penyajiannya harus diakui jauh lebih kaya dibanding Seru dari Hulu. Mereka jauh lebih "cerewet" pun musik mereka jauh lebih eksploratif, tanpa meninggalkan kriteria khas mereka yang tetap setia berada di jalur folk. Menurut saya panggung membuat mereka jauh lebih berani mengeksplor bunyi-bunyi yang nyaris tidak ada di album pertama.

Herannya, semangat yang saya rasakan saat mendengar album ini secara utuh sama dengan yang saya rasakan saat mendengar album pertama. Kita mau tidak mau akan ikut menari dan melepaskan diri. Sayangnya, sejak dirilis secara digital di pertengahan tahun, saya belum pernah menyaksikan mereka membawakan album ini di atas penggung.

Pelibatan Aan Mansyur dan Nurhadi Sirimorok sebagai kurator menjadi proses yang menurut saya baru. Walau dalam beberapa proses kreatif karya album musik telah menjadikan  penelitian dan  diskusi sebagai  proses menelurkan karya sudah cukup banyak dikerjakan, tapi melibatkan peneliti sekaligus penulis untuk terlibat sebagai kurator menegaskan bahwa Kapal Udara serius dengan apa yang ingin mereka kabarkan lewat lagu-lagu mereka.

Viny menjelaskan bagaimana posisi Aan dan Dandi sebagai partner diskusi dalam menentukan bagaiamana agar gagasan yang telah mereka sepakati tertuang padat dalam lirik. Semua lirik dalam lagu ini dikerjakan oleh Kapal Udara lalu dikurasi oleh mereka berdua. Serupa penyelaras bahasa dalam buku.

Album ini bertutur, walau tidak terlalu lugas, tentang wajah pembangunan manusia di zaman yang terus melaju. Dalam Kerja Rodi pun Roda Pedati sama bercerita bagaimana kita manusia terperangkap dalam pilihan-pilihan duniawi yang memenjara namun mesti terus dijalani.

Bahwa pilihan hidup yang membentang entah akan berhadapan dengan badai atau langit cerah, hidup harus tetap melaju seperti tutur mereka lewat Kapal Udara.

Doa Penanti, seperti yang mereka katakan saat rilis, bercerita bagaimana perempuan sebagai garda penjaga rumah, menjadi yang paling rentan terhadap kealpaan hidup. Kekerasan, domestifikasi, dan tuntutan-tuntutan yang kerap menjustifikasi. Nomor ini menjadi andalan saya di album ini.

Serdadu tegas menggambarkan bagaimana perang bukanlah cerita tentang menang dan kalah. Pada akhirnya ia adalah kisah bertahan hidup para serdadu di medan perang. In the name of "entah."

Mesin Manusia menceritakan kisah tentang manusia yang bertransformasi mencari bentuknya yang paling cocok dengan zaman yang mereka diami. Kenyataan miris yang dihadapi, dijawab dengan optimis oleh Kapal Udara bahwa setiap kita tidak sendiri.

Teman adalah kekuatan. Berjalan bersama, bangkit bersama, akan menjadi kekuatan yang berarti untuk terus bertahan. Apapun pilihan hidupmu.

Rilisan ini secara fisik dirilis dalam kemasan box set sebanyak 100 pcs di akhir tahun lalu menyusul dalam bentuk cd yang teman-teman bisa dapatkan di beberapa record store di Makassar.

Kapal Udara di album ini masih setia menggandeng Gunawan Adi a.k.a Benangbaja yang menerjemahkan lagu mereka menjadi artwork yang selalu detil dan apik. Juga turut menambah kesan artisitik dalam penyajian video lirik yang bisa diakses di channel Youtube Kapal Udara.

Album ini baik dari proses penciptaan, gagasan yang mereka serukan hingga pelibatan banyak orang di dalamnya adalah presentasi hasil belajar Kapal Udara yang tidak berhenti menjejal kemungkinan-kemungkinan.

Mereka menjadikan setiap panggung, setiap orang yang mereka temui, setiap tempat sebagai bagian dari proses belajar dan berkarya mereka dan sama sekali bukan sebagai ajang merebut popularitas. Setidaknya itu yang saya lihat. Mereka menikmati setiap proses yang membesarkan mereka sebagai proses belajar.

Melalui musik yang mereka presentasikan, mereka sedang membangun diri mereka sendiri, tentu bukan sebagai mesin namun selalu sebisa mungkin sebagai manusia.

Terakhir, saya ingin bilang bahwa karya ini menunjukan kedewasaan mereka. Sikap dewasa yang tidak membuat mereka harus menjadi sok bijak dan menyebalkan. Musik mereka tetap berseru. Album ini saya percayai akan mengantar Kapal Udara bertemu banyak hal (lagi) untuk kembali diceritakan, untuk kembali diserukan.

Terima kasih untuk selalu mau berkarya. Sungguh membanggakan.  

Kita Semua Harus Menjadi Feminist : Sebuah Review

10:10 PM 0
Kita Semua Harus Menjadi Feminist : Sebuah Review

Judul Buku : A Feminist Manifesto, Kita Semua Harus Menjadi Feminis
Penulis : Chimamanda Ngozi Adichie
Penerbit : Odyssey
Tahun : 2019

Review Buku oleh Harnita Rahman

Buku ini ditulis Chimamanda Ngozi Adichi, yang diawal secara eksplisit menyatakan dirinya sebagai Seorang Perempuan Feminist Afrika yang Bahagia yang Suka Memakai Sepatu Hak Tinggi dan LipGloss untuk Mengesankan dirinya Sendiri. Pernyataan perkenalanan ini ditulis secara jelas di bagian pembuka menurut saya demi menarik batas jelas tentang pandangan feminism yang dibentuk orang-orang hingga membuatnya terkesan begitu berat dan sukar untuk dilalui. 

Buku ini adalah textbook tentang feminism dikemas ringan dengan penyampaian data melalui narasi penulis yang lugas dan provokatif. Buku ini ditulis Chimamanda untuk seorang anak perempuan sahabatnya yang bernama Ijeawele. Dia membagi buku ini dalam 15 bagian yang menjadi manifesto bagi saiapapun yang menyadari bahwa menjadi feminist adalah wajib.

Data yang dipaparkan, sekali lagi berdasarkan pengalaman pribadi  dan atau orang-orang di sekitar Chimamanda yang berada di ranah relasi laki-laki dan perempuan, khususnya yang terjadi di Nigeria. Berangkat dari perangkap budaya di daerah kelahirannya yang membentuk perspektifnya soal menjadi laki-laki dan perempuan. 

Chimamanda di awal bukunya menarik batas jelas tentang definisi feminsime yang ia percayai yang ia benturkan atas definisi feminisme yang dipercayai banyak orang :
“kau membenci pria, kau membenci bra, kau membenci budaya Afrika, kau berpikir bahwa wanita harus selalu bertaggung jawab,kau tidak memakai riasan, kau selalu marah….”  Begitu dia menggambarkan bagaimana feminism yang berkembang di Nigeria, terasa sangat berat.
***