KEDAI BUKU JENNY

Urban Social Forum Sambang Kota Makassar

00.18 0
Urban Social Forum Sambang Kota Makassar

Penulis: Ikrana

Surel kami dibalas setelah sebelas hari kami menunggu jawaban. Surel tersebut membawa pesan yang membuat saya sulit untuk tidak tersenyum; sekretariat Urban Social Forum menyambut ajakan kami untuk bekerjasama dan akan menyelenggarakan forum tersebut di Makassar. Saya langsung menghubungi beberapa kawan bahwa sebentar lagi forum yang tiap tahun menjadi impian kami akan segera hadir di kota ini, dan kita sendiri yang akan menyelenggarakannya. Saling membalas surel kemudian berganti menjadi percakapan lewat telepon. 

Tadinya, menghadiri Urban Social Forum adalah gagasan yang sangat jauh bagi saya. Sempat satu dua kali bayangan itu terasa nyata, dengan niat menyisihkan separuh dari uang jajan agar biaya perjalanan tak perlu membebani orang tua. Namun, hal tersebut tidak pernah terjadi. Satu-satunya hal yang bisa saya dan kawan-kawan lain lakukan adalah menitip buah tangan khas USF, entah itu kaos atau sekadar sticker, kepada satu atau dua orang kawan yang beruntung bisa mencapai Semarang atau Solo dengan biaya yang tentu saja tidak sedikit. Hingga akhirnya program Sambang Kota yang diusung oleh sekretariat USF di tahun ini membuat bayangan itu menjadi benar-benar nyata.

Hari-hari setelah surel tersebut dibalas kemudian menjadi hari-hari panjang mempersiapkan forum tersebut dengan sebaik-baiknya. Tantangan kami yang pertama adalah mencari fokus bahasan diskusi yang akan disajikan. Masalahnya, permasalahan urban apa sih yang Makassar tidak punya? Moda transportasi publik? Terpenuhinya hak atas perumahan yang layak? Penggusuran? Banjir? Hak pejalan kaki? Ruang terbuka hijau yang inklusif? Ya tentu saja hampir semua kota besar di Indonesia juga mengalami permasalahan yang serupa. 

Namun, untuk menentukan fokus bahasan diskusi yang bisa memantik keresahan warga Makasssar sepertinya menjadi satu hal yang harus kami pikirkan baik-baik. Kemacetan sudah menjadi hal yang normal, sebagai akibat dari meningkatnya pembelian kendaraan pribadi, juga sebagai akibat dari tidak tersedianya sistem transportasi publik yang layak bagi masyarakat. Banjir dan sampah sepertinya cukup Dinas Lingkungan Hidup dan truk Tangkasaki saja yang memikirkannya. Tidak usah pula repot-repot memikirkan trotoar untuk pejalan kaki yang juga inklusif bagi penyandang disabilitas, tidak akan ada yang sanggup berjalan kaki di bawah teriknya matahari Makassar. Kewajaran-kewajaran tersebut telah menjadi narasi dominan, dipercaya dan diyakini oleh lebih dari separuh warga Makassar yang sehari-harinya berjibaku di sepanjang jalan A.P. Pettarani, yang sampai hari ini masih dipenuhi alat berat untuk membangun tol layang.

Begitulah, diskusi dan pembahasan berlangsung berhari-hari, beberapa kali diubah, ditambah dan dikurangi, hingga akhirnya kami memutuskan untuk membumikan tiga tema besar, yakni mengenai ruang publik yang demokratis, politik kewargaan dan perubahan wajah Makassar, serta bagaimana membangun koalisi gerakan sosial demi berlanjutnya hal-hal baik yang saat ini telah banyak dimulai oleh masyarakat di akar rumput. Meskipun terkesan sedikit ambisius, kami mengusung tiga tema besar ini dengan harapan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan permasalahan-permasalahan yang lebih spesifik, yang tindak lanjutnya masih kami pikirkan akan bagaimanakah bentuknya di kemudian hari.

Setelah selesai membangun ide besar, menentukan waktu dan lokasi, serta memastikan kehadiran seluruh narasumber dan pengisi acara, kami dengan seluruh komunitas yang terlibat dalam penyelenggaraan forum ini kemudian bertemu di tanggal 6 Februari untuk mempersiapkan hal-hal yang lebih teknis. Petang itu Rumata’ Art Space disibukkan oleh aktivitas pasang-memasang spanduk acara, mendiskusikan sirkulasi dan mobilitas peserta diskusi, serta pengaturan panggung untuk acara di malam hari. Semua bersemangat dan seperti tidak sabar untuk menyambut hari esok, walaupun hari itu kami pulang ke rumah masing-masing dengan tubuh yang kelelahan, dan dengan harapan bahwa besok langit akan cerah. Kami berjanji untuk berkumpul lagi pukul 9 pagi.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Sebelum matahari 7 Februari terbit, pukul 4 subuh langit Makassar bergemuruh dan menangis sejadi-jadinya. Gemuruh tersebut mampu membangunkan saya dan membuat saya lemas, membayangkan bagaimana kami akan tetap mempersiapkan dan melakukan segalanya di bawah gelapnya langit Makassar. Namun, ada sedikit harapan bahwa biarlah subuh ini Makassar menghabiskan sedihnya, siang nanti pasti akan cerah kembali. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Hingga pukul 8 pagi, hujan Makassar tidak kunjung berhenti. Di sepanjang perjalanan menuju Rumata’ Art Space, lirik lagu GAS! oleh FSTVLST terus terngiang di kepala saya.

Berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa
dan jalan satu-satunya jalani sebaik kau bisa

Baris di lagu tersebut seperti menjadi mantra dan barangkali menjadi cara bagi saya untuk menghibur diri sendiri. Namun tetap saja, saya tidak bisa menyembunyikan raut kecewa. Saya memasuki ruang utama di Rumata’ Art Space disambut oleh kawan-kawan lainnya yang telah lebih dulu datang. Melihat bagaimana mereka tetap menjalankan dan mengerjalan semuanya, lagu Gas! terngiang semakin kencang di kepala saya. Pesan semangat dikirimkan oleh Kak Nita yang tidak sempat hadir, diikuti harapan bahwa semoga langit memberkati. Tidak ada jalan lain selain bersahabat dengan cuaca hari ini, lalu mengubah total konsep acara yang seharusnya ber-setting outdoor. Selepas ibadah salat Jumat, peserta diskusi rupanya berdatangan. Kawan-kawan datang dengan pakaian dan rambut basah sebagian. Namun, mereka tetap mengisi lembaran registrasi, menulis sesuatu di sticky notes, menaruh di dinding yang telah kami sediakan, lalu duduk di salah satu kursi menghadap ke layar.

Satu-persatu berdatangan dengan payung dan jas hujan, hingga tanpa disadari ruang utama Rumata’ Art Space menjadi penuh dan kami harus menyediakan kursi tambahan. Sementara ruang utama sudah siap digunakan untuk menjadi lokasi diskusi Panel 1, sebagian kawan kami masih sibuk berurusan dengan genangan air di teras belakang untuk mempersiapkan lokasi diskusi Panel 2. Kerasnya suara hujan bertemu kanopi teras menjadi irama yang mengiringi kawan kami mengeringkan kursi-kursi tong yang sehari sebelumnya telah diangkut dari Kedai Buku Jenny.



Walaupun mesti bersusah payah menaikkan volume suara, masing-masing pembicara di setiap panel tetap mempersembahkan materi terbaiknya untuk memantik peserta diskusi. Membagikan pengalaman dan pengetahuannya tentang kota dan tentang Makassar. Di Panel 1 ada Bapak Dr. Andi Faisal, S.S., M.Hum. serta Ibu Sri Aliah Ekawati S.T., M.T., yang membahas mengenai ruang publik di Makassar. Diskusi diawali oleh curhatan peserta diskusi mengenai pengalamannya dengan ruang publik di Makassar, baik itu yang bersifat fisik maupun non fisik. 

Peserta lebih banyak bercerita mengenai sulitnya menemukan ruang publik selain yang ada di dalam kawasan perumahan elit. Pak Faisal akhirnya menjelaskan mengenai keterkaitan antara ruang dan kapitalisme, serta bagaimana hubungan keduanya akhirnya menciptakan ruang yang semakin abstrak dan homogen. Ibu Aliah menambahkan penjelasan mengenai hal tersebut dengan memberikan satu contoh yang terjadi di kawasan Pantai Losari. Pantai Losari dulunya adalah ruang publik yang luas dan memanjang. Namun, saat ini hampir lebih dari separuh kawasan tersebut diprivatisasi, dibangun hotel dan restoran, serta pembangunan Centre Point of Indonesia.

Sementara itu, Panel 2 yang berlangsung di halaman belakang Rumata’ diisi oleh Slamet Riadi, Nurhady Sirimorok, Edi Ariadi, serta perwakilan dari ARKOM Makassar. Panel ini diawali oleh keresahan dari beberapa peserta diskusi terkait perubahan wajah Makassar yang tentu saja merugikan dan semakin meminggirkan kelompok-kelompok rentan di kota ini. 

Slamet Riadi sebagai pembicara pertama kemudian memaparkan keterangan mengenai dua hal yang menjadi momok dalam mempengaruhi Kota Makassar, yakni pembangunan yang semakin masif dan tidak terarah serta banyaknya ruang-ruang publik yang beralih fungsi menjadi ruang privat.

Nurhady Sirimorok bahkan menambahkan bahwa pada akhirnya perubahan tersebut akan membuat kita semua menerima dan beradaptasi pada penutupan ruang-ruang publik. Kota makassar mengalami gentrifikasi (semakin banyak kawasan di kota yang hanya diisi oleh fasilitas-fasilitas yang hanya bisa dijangkau oleh kalangan tertentu) yang mana orang-orang miskin hanya bisa mengakses perumahan yang jauh dari kota dan semakin hari akan semakin jauh. Hal tersebut kemudian mengafirmasi bahwa mekanisme kapitalisme yang ada di Makassar akan terus beputar sampai ada kekuatan lain yang dapat menghentikannya.

Panel ini banyak mendiskusikan perihal pengorganisasian politik kewargaan yang dapat dilakukan, hingga akhirnya dapat menjadi sebuah kekuatan yang mampu menghentikan proses-proses yang banyak meminggirkan kaum rentan tadi. Akhirnya seluruh peserta berkumpul kembali di ruang utama di diskusi panel ketiga, untuk membahas strategi, metode, hingga berkoalisi demi terwujudnya gagasan another city is possible.

Menuju petang hujan berhenti turun dan guntur berhenti bergemuruh. Tersisa satu dua tetes yang jatuh dari dahan dan daun pohon di halaman belakang Rumata’ Art Space. Kami semua berpindah untuk mempersiapkan panggung, memindahkan pengeras suara dari ruang utama, dan juga mengangkat kursi-kursi. Beberapa pengisi acara malam telah berdatangan, sedangkan beberapa peserta diskusi yang bertahan dari siang hari justru beranjak pulang. Meskipun hujan tidak turun lagi, kami memilih menggunakan teras belakang berkanopi saja untuk acara malam. 

Teras tersebut berukuran setengah lapangan voli, dengan sebuah kedai kopi kecil di ujungnya. Kursi-kursi kami atur acak menghadap ke panggung. Namun, ukuran teras yang kecil dan terbatas ini justru menciptakan suasana yang lebih akrab dan intim. Semua orang saling menyapa satu sama lain, hingga tercipta kelompok-kelompok kecil yang asik dengan obrolannya masing-masing, sembari tetap memperhatikan pengisi acara yang bergantian mengisi panggung.

Dibuka oleh penayangan Animasi Kampung Kota Paropo 3S, cerita tentang Petepete di karya fotografi Aziziah Diah Aprilya, serta penayangan film The Netra(L) karya Ulfa Evitasari. Setelah ketiga karya visual tersebut, panggung kemudian diisi oleh penampilan Kolektif Pop. Karya visual, musik, serta kalimat demi kalimat disuguhkan kepada penonton yang hening. Di antara itu ada Kak Bob yang bercerita mengenai proses kreatif pembuatan karya mereka, serta pesan apa yang berusaha disampaikan. Panggung malam itu ditutup oleh suara merdu Om Has yang setahun terakhir jarang terdengar.

Di akhir tulisan ini kami berterima kasih kepada kawan-kawan yang telah memilih menjadi bagian dari Urban Social Forum Sambang Kota Makassar. Walaupun semakin hari Makassar menjadi kian asing dan sepertinya tidak peduli, mari kita bertemu lagi di forum lain untuk merawat dan tetap mengusahakan, karena another city is possible

Merancang Mesin (untuk) Manusia

23.46 0
Merancang Mesin (untuk) Manusia
Dokumen Kapal Udara
Penulis: Harnita Rahman

Saya melihat musik sebagai produk budaya yang punya potensi membangun manusia. Melalui musik, entah bunyi nada, hentakan irama ataupun pilihan kata, bahkan proses penciptaan karya, secara bersamaan atau tidak, melalui hal tersebut, saya selalu berharap bisa menangkap sesuatu.

Berbicara, berpendapat, atau menentukan sikap politik melalui musik menurut saya adalah sesuatu yang lumrah. Toh sebuah karya tidak akan lepas dari tendensi penciptanya. Walau setelah  lepas landas dan menjadi sebuah produk ia akan punya kaki-kakinya sendiri yang melesat liar di tiap kepala yang tentu tidak akan melulu sama.

Mendengar secara utuh Mesin Manusia karya Kapal Udara di penghujung 2019, adalah serupa anugerah penutup tahun akan optimisme perjalanan musik mereka. Cerita ini bukan tentang panggung mereka yang semakin menanjak, semakin digandrungi dan membuat saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa tidak butuh lama band ini akan menjadi salah satu ikon musik di kota Makassar atau mungkin di Sulawesi.

Tapi seperti biasa, saya lebih senang mengulik sendiri bagaimana Mesin Manusia diantar dengan baik, dengan sama matangnya saat album pertama dilepaskan sekitar 2 tahun lalu.

Saya ingat bagaiamana Viny dan Ale menceritakan saat album ini baru akan dibicarakan. Gagasan mereka telah jelas saat itu, bahwa album ini akan bercerita tentang kelibat manusia yang mengubah kehidupan. Perang, pelaut, perempuan, mesin dan pekerja.

Gagasan ini menurut saya menjadi cerita babak selanjutnya setelah Seru dari Hulu bergema di nusantara. Seru dari Hulu yang bercerita tentang hulu kehidupan memang sepatutnya disambut dengan cerita bagaimana manusia bekerja.

Mesin Manusia dalam penyajiannya harus diakui jauh lebih kaya dibanding Seru dari Hulu. Mereka jauh lebih "cerewet" pun musik mereka jauh lebih eksploratif, tanpa meninggalkan kriteria khas mereka yang tetap setia berada di jalur folk. Menurut saya panggung membuat mereka jauh lebih berani mengeksplor bunyi-bunyi yang nyaris tidak ada di album pertama.

Herannya, semangat yang saya rasakan saat mendengar album ini secara utuh sama dengan yang saya rasakan saat mendengar album pertama. Kita mau tidak mau akan ikut menari dan melepaskan diri. Sayangnya, sejak dirilis secara digital di pertengahan tahun, saya belum pernah menyaksikan mereka membawakan album ini di atas penggung.

Pelibatan Aan Mansyur dan Nurhadi Sirimorok sebagai kurator menjadi proses yang menurut saya baru. Walau dalam beberapa proses kreatif karya album musik telah menjadikan  penelitian dan  diskusi sebagai  proses menelurkan karya sudah cukup banyak dikerjakan, tapi melibatkan peneliti sekaligus penulis untuk terlibat sebagai kurator menegaskan bahwa Kapal Udara serius dengan apa yang ingin mereka kabarkan lewat lagu-lagu mereka.

Viny menjelaskan bagaimana posisi Aan dan Dandi sebagai partner diskusi dalam menentukan bagaiamana agar gagasan yang telah mereka sepakati tertuang padat dalam lirik. Semua lirik dalam lagu ini dikerjakan oleh Kapal Udara lalu dikurasi oleh mereka berdua. Serupa penyelaras bahasa dalam buku.

Album ini bertutur, walau tidak terlalu lugas, tentang wajah pembangunan manusia di zaman yang terus melaju. Dalam Kerja Rodi pun Roda Pedati sama bercerita bagaimana kita manusia terperangkap dalam pilihan-pilihan duniawi yang memenjara namun mesti terus dijalani.

Bahwa pilihan hidup yang membentang entah akan berhadapan dengan badai atau langit cerah, hidup harus tetap melaju seperti tutur mereka lewat Kapal Udara.

Doa Penanti, seperti yang mereka katakan saat rilis, bercerita bagaimana perempuan sebagai garda penjaga rumah, menjadi yang paling rentan terhadap kealpaan hidup. Kekerasan, domestifikasi, dan tuntutan-tuntutan yang kerap menjustifikasi. Nomor ini menjadi andalan saya di album ini.

Serdadu tegas menggambarkan bagaimana perang bukanlah cerita tentang menang dan kalah. Pada akhirnya ia adalah kisah bertahan hidup para serdadu di medan perang. In the name of "entah."

Mesin Manusia menceritakan kisah tentang manusia yang bertransformasi mencari bentuknya yang paling cocok dengan zaman yang mereka diami. Kenyataan miris yang dihadapi, dijawab dengan optimis oleh Kapal Udara bahwa setiap kita tidak sendiri.

Teman adalah kekuatan. Berjalan bersama, bangkit bersama, akan menjadi kekuatan yang berarti untuk terus bertahan. Apapun pilihan hidupmu.

Rilisan ini secara fisik dirilis dalam kemasan box set sebanyak 100 pcs di akhir tahun lalu menyusul dalam bentuk cd yang teman-teman bisa dapatkan di beberapa record store di Makassar.

Kapal Udara di album ini masih setia menggandeng Gunawan Adi a.k.a Benangbaja yang menerjemahkan lagu mereka menjadi artwork yang selalu detil dan apik. Juga turut menambah kesan artisitik dalam penyajian video lirik yang bisa diakses di channel Youtube Kapal Udara.

Album ini baik dari proses penciptaan, gagasan yang mereka serukan hingga pelibatan banyak orang di dalamnya adalah presentasi hasil belajar Kapal Udara yang tidak berhenti menjejal kemungkinan-kemungkinan.

Mereka menjadikan setiap panggung, setiap orang yang mereka temui, setiap tempat sebagai bagian dari proses belajar dan berkarya mereka dan sama sekali bukan sebagai ajang merebut popularitas. Setidaknya itu yang saya lihat. Mereka menikmati setiap proses yang membesarkan mereka sebagai proses belajar.

Melalui musik yang mereka presentasikan, mereka sedang membangun diri mereka sendiri, tentu bukan sebagai mesin namun selalu sebisa mungkin sebagai manusia.

Terakhir, saya ingin bilang bahwa karya ini menunjukan kedewasaan mereka. Sikap dewasa yang tidak membuat mereka harus menjadi sok bijak dan menyebalkan. Musik mereka tetap berseru. Album ini saya percayai akan mengantar Kapal Udara bertemu banyak hal (lagi) untuk kembali diceritakan, untuk kembali diserukan.

Terima kasih untuk selalu mau berkarya. Sungguh membanggakan.  

Kita Semua Harus Menjadi Feminist : Sebuah Review

22.10 0
Kita Semua Harus Menjadi Feminist : Sebuah Review

Judul Buku : A Feminist Manifesto, Kita Semua Harus Menjadi Feminis
Penulis : Chimamanda Ngozi Adichie
Penerbit : Odyssey
Tahun : 2019

Review Buku oleh Harnita Rahman

Buku ini ditulis Chimamanda Ngozi Adichi, yang diawal secara eksplisit menyatakan dirinya sebagai Seorang Perempuan Feminist Afrika yang Bahagia yang Suka Memakai Sepatu Hak Tinggi dan LipGloss untuk Mengesankan dirinya Sendiri. Pernyataan perkenalanan ini ditulis secara jelas di bagian pembuka menurut saya demi menarik batas jelas tentang pandangan feminism yang dibentuk orang-orang hingga membuatnya terkesan begitu berat dan sukar untuk dilalui. 

Buku ini adalah textbook tentang feminism dikemas ringan dengan penyampaian data melalui narasi penulis yang lugas dan provokatif. Buku ini ditulis Chimamanda untuk seorang anak perempuan sahabatnya yang bernama Ijeawele. Dia membagi buku ini dalam 15 bagian yang menjadi manifesto bagi saiapapun yang menyadari bahwa menjadi feminist adalah wajib.

Data yang dipaparkan, sekali lagi berdasarkan pengalaman pribadi  dan atau orang-orang di sekitar Chimamanda yang berada di ranah relasi laki-laki dan perempuan, khususnya yang terjadi di Nigeria. Berangkat dari perangkap budaya di daerah kelahirannya yang membentuk perspektifnya soal menjadi laki-laki dan perempuan. 

Chimamanda di awal bukunya menarik batas jelas tentang definisi feminsime yang ia percayai yang ia benturkan atas definisi feminisme yang dipercayai banyak orang :
“kau membenci pria, kau membenci bra, kau membenci budaya Afrika, kau berpikir bahwa wanita harus selalu bertaggung jawab,kau tidak memakai riasan, kau selalu marah….”  Begitu dia menggambarkan bagaimana feminism yang berkembang di Nigeria, terasa sangat berat.
***

KBJamming 25 : Jalan yang Mempertemukan

21.27 0
KBJamming 25 : Jalan yang Mempertemukan
Penulis : Nurul "Ruri" Fajri
Sore kemarin, (22/11/2019) adalah KBJamming pertama saya. Dua puluh empat volume sebelumnya saya alpa dan ini barangkali dikarenakan saya, seperti banyolan banyak kawan, anaknya kurang pergaulan, atau mainnya kurang jauh. Seperti ketika Kak Bob membuka KBJamming vol.25 dengan, 

“Deh, 25 (volume) mi. Nda nyangkaku.” Saya pun tidak menyangka baru dapat hadir pada volume ke-25nya.
KBJamming vol.25 dengan tema Karya dan Perjalanan dibuka dengan sesi bincang-bincang bersama Hendra (SURGIR), band as al Makassar, Eko (Latter Smil) dari Palu, dan Lovy (SUN) dari Kotamobagu. Dua terakhir akan menjadi penampil di perhelatan musik Rock in Celebes, 23-24 November 2019, karenanya ini menjadi tur pertama mereka di Makassar. Sementara Hendra, pernah terlibat dalam tur Riuh Berderau sekitar 2012 yang dalam tuturan Kak Bob, 

“Turnya dikerjakan relatif komprehensif, semangat kolektifannya terasa, dan gaungnya pada masa itu cukup besar.”

Saat Kak Bob melempar pertanyaan bagaimana mereka memaknai tur sebagai pelaku musik, dua dari tiga pembicara menjawab, “Sebenarnya karena mau jalan-jalan.”Tentu saja jalan-jalan adalah konsep menyenangkan yang sama pentingnya dengan misi lain setelahnya. Dan jalan-jalan di sini dapat dipahami sebagai persoalan yang tak sesederhana itu. Untuk mewujudkan urusan jalan-jalan ini terdapat usaha besar yang bercokol di baliknya. 
Jauh-jauh dari Palu dan Kotamobagu, Latter Smil dan SUN di awal harus melalui tahapan seleksi untuk terpilih tampil di Rock in Celebes. Lalu persiapan fisik, logistic, dan hal-hal yang butuh kerja sama-sama untuk mewujudkannya. Bagi Eko, Lovy, dan Hendra, agenda berikutnya selain jalan-jalan adalah upaya berjejaring, sekaligus memperkenalkan skena musik dan budaya dari mana mereka berasal.

Selain misi perkenalan, ketika tur Riuh Berderau kenang Hendra, mereka juga belajar mengenal skena musik daerah lokasi tur mereka. Cara yang mereka tempuh dengan mengajak kolaborasi musisi lokal untuk tiap penampilan. Saat di Palu misalnya, mereka berkolaborasi dengan seorang pemain instrumen tiup bernama Anto. 

“Jadi kita juga mengenalmi musiknya, orangnya, budayanya. Banyak pelajaran kita bawa pulang. Bukan Cuma makanannya,” katanya disambut tawa audiens.

Saya jadi teringat film Whisper of The Heart yang saya tonton dua hari lalu. Dalam perjalanannya mengantar kotak makan siang ayahnya ke perpustakaan, Shizuku hampir lalai karena membuntuti seekor kucing yang dijumpainya di kereta dan membuatnya berakhir di sebuah toko barang antik. Dari sana cerita Shizuku dan tokoh Amasawa terus bergulir, dari waktu ke waktu Shizuku bergumul menuntaskan apa yang sudah dia mulai. Begitulah bagaimana satu perjalanan melahirkan percabangan-percabangan lain.

Tak lama bincang-bincang sore itu berakhir lalu dilanjutkan penampilan dari SUN, Hirah Sanada, dan Latter Smil. Dari pojok belakang, saya berdiri sedikit maju ketika SUN sudah tiba di separuh lagu kedua. Ketika menyanyikan lagunya yang berjudul Santuy, saya seperti sedang berada di tengah orang-orang yang menikmati jenis akhir pekan paling merdeka di sudut kota yang kian hari kian ditumbuhi pasak-pasak. 
SUN (Kotamobagu) 
Ketika Hirah Sanada yang datang terlambat memulai lagunya, saya undur diri kembali ke pojok, mendengarkan sambil menatap ubin lamat-lamat. Mas di seberang saya berceletuk,

“Kukira Nadin.” Dalam hati saya menimpali
Hirah Sanada (Makassar) 
“Ya Mas, saya pun berpikir demikian.” Ketika Latter Smil melanjutkan sebagai penampil terakhir saya sudah berdiri lebih belakang, di sebelah pagar, berdiri bersisian dengan Era yang baru datang. Era bilang Latter Smil mengingatkannya pada Figura Renata. Saya menyetel Rasa Dan Karsa kali pertama di peranti musik streaming ponsel saya saat mengetik kalimat ini. 
Latter Smile (Palu) 
Pada lagu terakhirnya, dari belakang, dari jarak itu, saya menarik pandangan dari dua orang pemusik di hadapan saya menyusur naik ke atap KBJ lalu ke langit lalu pesawat terbang dan awan abu-abu dan sore dengan sedikit jingga yang pudar.
Jalan-jalan ke KBJamming Vol.25 berakhir dengan tepuk tangan yang tidak riuh tetapi hangat. Selalu. Jalan selalu mempertemukan dengan banyak kemungkinan, seperti teman-teman dalam turnya. Seperti saya dalam KBJamming.

Menonton FSTVLST, Menyambangi Keluarga dan Sensasi-Sensasi Masa Lalu

17.14 0
Menonton FSTVLST, Menyambangi Keluarga dan Sensasi-Sensasi Masa Lalu
Penulis: Zulkhair "Bobhy" Burhan

Foto : Muh. Ardha/ @muh.ardha

Mendengar kabar jika FSTVLST akan manggung lagi di Makassar selalu menggembirakan. Tapi awal bulan lalu, saat mendapatkan kabar itu dari Rahmat yang saat itu masih sedang berada di Jogja dan akan segera menyelesaikan masa magangnya di Libstud, kegembiraan yang saya rasakan tak lagi seperti saat pertama mendengar kabar serupa di tahun 2015 saat FSTVLST akan manggung di Rock in Celebes. Saat itu kegembiraan yang saya rasakan dan tentu juga dirasakan kawan-kawan yang lain adalah serupa kegembiraan para pengantusias sebuah band yang akhirnya bisa menyaksikan langsung band idolanya. Tapi kali ini rasanya lebih dalam dari itu. Kegembiraan yang saya rasakan seperti saat hendak menyambangi keluarga yang telah lama tak bersua dan tak sabar menemui kenangan dan cerita-cerita masa lalu.

Dua hari sebelum panggung FSTVLST, Rahmat kembali memberi kabar jika Jumat malam (6 Desember 2019) FSTVLST dan para kru akan tiba di Makassar. Biasanya jika mendengar kabar seperti itu saya akan langsung menghubungi maspak Farid Stevy untuk sekadar memastikan info yang baru saya dengar. Tapi kali ini saya memilih untuk membiarkan semua berjalan alamiah saja. Sambil berharap bahwa upayaku untuk menemui kenangan dan cerita-cerita masa lalu dan sensasi saat mendatangi panggung-panggung Jenny atau FSTVLST akan saya jumpai tanpa kontruksi yang disengaja karena privilege ini itu.

Tiket masuk ke festival yang menghadirkan FSTVLST sudah saya kantongi dengan bantuan seorang mahasiswa saya yang juga rajin menyambangi konser-konser musik di kota ini dua hari sebelum hari yang saya tunggu. Dan hari itu juga, seperti kabar dari Rahmat sebelumnya, FSTVLST tiba di Makassar. Dan lagi, saya tak terlalu reaktif. Masih godaan untuk sekadar menanyakan kabar kapan tiba atau mengucapkan selamat datang tak saya lakukan. Masih berharap biarlah semuanya wajar apa adanya sambil menanti kejutan apa yang akan diberikan Sang Waktu.