Tidak Sekerdil Siri' yang Kamu Pahami

Ulasan Novel Siri' oleh Harnita Rahman

"Taroangngi siri' alemu nak" di keluarga Bugis Makassar, kalimat ini pasti pernah diucapkan orang tua sebagai nasehat pada anaknya, setidaknya sekali, tapi biasanya berkali-kali hingga hari kini. "Jaga rasa malu dalam dirimu", seperti itu kira-kira artinya.
Sejak kecil Siri' yang saya pahami konteksnya sangat personal. Saya mentah-mentah menerjemahkannya sebagai rasa malu yang sayangnya standarnya telah dikonstruksi sedemikan rupa dalam masyarakat kita yang feodal dan patraiarki. Siri' menjadi tembok besar yang seolah berhadapan langsung dengan masa remaja saya yang meledak-ledak dan ingin mengeksplorasi banyak hal. Saya membencinya.
Saat meninggalkan usia remaja, dalam pandangan saya, Siri' berubah menjadi lebih luas. Tapi esensinya tetap sama. Mengecewakan. Saya menghadapi kenyataan orang-orang terpelajar yang mengenyam pendidikan di kampus sibuk mengatas namakan Siri'  yang entah kenapa harus berwujud kemarahan, bentrokan, pertikaian, bahkan saling bunuh demi suku, ras dan kelompok.
Begitulah, Siri' saya pahami, lebih banyak tentang harga diri, tentang prestise, tentang primordialisme, tentang mengagungkan sesuatu yang tidak pada tempatnya, jauh dari yang sejatinya ia sebagai nilai hidup, yang sayangnya beriorintasi hasil semata. Kau menjaga Siri' keluarga dengan membayar uang panaik istrimu hingga ratusan juta, tapi kau lupa merasa Siri' saat uang yang kamu pakai adalah hasil utang sana-sini, misalnya. Dan hal tersebut nyata, terjadi, di sekitar kita, setiap waktu, dengan bentuk yang berbeda-beda.
Nah, menurut saya, dengan sangat jelas saya melihat pijakan cerita novel perdana yang ditulis Asmayani Kusrini ini berangkat dari kegelisahan yang sama saya rasakan pula . Bagaimana masyarakat Bugis Makassar kebanyakan terlanjur hidup dengan mengatasnamakan Siri', Siri' yang entah bagaiamana bertransformasi menjadi sangat materialis dan bersandar penuh pada penilaian dan pandangan orang lain. 
Dan novel ini menceritakan hal tersebut dengan cara yang brilliant. Jujur, saat membaca judul dan blurb nya, saya tidak begitu tertarik membuka buku ini. Saya berpikir akan bertemu dengan kisah hidup klasik ala masyarakat Bugis Makassar yang menurutku tidak begitu menarik. Apalagi, kata Siri' terlanjur menuntun saya pada cerita-cerita yang berlatar Bugis Makassar, genre yang tidak pernah berhasil membuat saya membaca buku sampai habis.
Dan pendapat saya, patah terbengkalai, hancur menjadi debu, sejak kisah pertama menjumpai saya. Asmayani, penulis yang ternyata adalah seorang jurnalis bercerita dengan cerdas dan anggun. Ia menyuguhkan alur dan penokohan secara misterius namun sama sekali tidak norak atau berlebihan. Ia menyuguhkan banyak hal baru yang membuat saya tidak ingin berhenti membaca, pun mengajak saya untuk berpikir keras.
Asmayani menutur kisah hidup keluarga Bugis Makassar dengan  kemasan yang mewah. Di dalamnya memuat sejarah, mengangkat fenemona nyata tentang relasi sosial khas masyarakat Indonesia. Dia mengangkat issue gender, poligami, pengasuhan, korupsi, nepotisme, seni,  HAM,dan Papua sebagai subjek penting yang disajikan dengan politis dan yang paling utama, ia menunjukkan keberpihakan. Jelas juga terlihat bahwa kisah yang dituturkan berdasarkan riset atau pengalaman, bukan imajinasi semata. Gaya ceritanya lugas dan berani. 
Selain itu yang yang tidak kalah pentingnya, ia memanjakan imajinasi saya dengan deskripsi latar yang terperinci dan bukan hadir sebagai pemanis atau pelengkap semata. Mungkin karena penulisnya juga bersinggungan erat dengan dunia film, penyajian ceritanya serupa adegan-adegan film yang tidak runut namun tetap teratur. Saya seperti terpacu untuk menyambung terkaan demi terkaan yang terbangun sejak pertama kali membacanya.
Siri' di novel ini menurut saya secara jelas ingin memperlihatkan bahwa dia adalah nilai yang universal, nilai-nilai yang sejatinya dimiliki manusia sebagai pegangan hidup. Siri' bukan tentang bagaimana kelak orang menilai dan melihatmu, tapi bagaimana kamu seharusnya berpikir dan bertindak sesuai nilai yang kamu pegang sebagai manusia. Yaitu, bagaimana kamu menghargai kehidupan orang lain sama seperti kau menghargai hidupmu. Jika tidak, kamu mungkin akan bernasib seperti keluarga Bahjan yang begitu sempurna namun hanya di permukaan saja.
Saya sungguh bangga dan terharu telah membaca karya ini. Sejujurnya, saya selalu yakin bahwa Siri' tidak sekerdil yang saya lihat dan dengar lalu hanya berakhir sebagai slogan dan teriakan semata. Manusialah yang kadang terlampau kerdil untuk mengakui hal tersebut.

Buku ini ditebitkan oleh Penerbit Mekar Cipta Lestari, 350 halaman, dan bisa kalian beli di Kedai Buku Jenny dong.

Post a Comment

Designed by Anupam | Distributed By Make Tech OF