June 2020 - KEDAI BUKU JENNY

Buzzer yang Dipecat

7:36 AM 0
Buzzer yang Dipecat
Oleh: Harlan Boer
Area merokok sebuah gerai donat, tempat Piy biasa menghabiskan waktu bekerja. Kipas angin di langit-langit berputar konstan dengan suara seperti meringkik. Suara itu turut menenggelamkan kegundahan Piy. Di meja, kopi hitamnya sudah lama tidak mengepul. 
Ini cangkir kedua. Isi: seperapat.
Piy menyisir rambutnya yang ikal dengan jari. Jari yang agak dingin dan rambut yang agak basah. Hitam.
Kemeja Piy kali ini sedikit kusut. Celana bahannya masih seperti yang ia kenakan sejak tiga hari lalu. Hitam. 
Piy masih bersama pikirannya. Hitam.
Sepatu kanannya ia ketuk-ketukkan ke lantai. Hitam.
Piy mencabut satu helai janggutnya. Putih.
Di depan Piy, tampak seorang gadis bersepatu roda melintas. Gadis muda yang ingin bugar dan bergaya. Sepatu rodanya berwarna hijau cerah dengan sedikit aksen garis. Hitam. 
Konsentrasi gadis itu buyar ketika menoleh ke arah Piy. Kepalanya bertanya,”Mengapa bapak-bapak itu tampak begitu kusut? Ada masalah apa, ya? Sepertinya pikirannya hitam….”
Gadis itu larut dalam pertanyaannya, tidak sadar bahwa ia terus meluncur mendekati sebuah pohon tempat Amros dan Emros bersantai sambil bermain catur. Sebetulnya tidak terlalu santai juga, sebab Amros dan Emros banyak memikirkan langkah-langkah mendatang.
Gelinding sepatu roda sama sekali tidak macet. Gadis itu semakin mendekat pohon….
Amros tampak terdesak. Pionnya dalam bahaya. Sedangkan Emros terus mengamati ke mana jari Amros akan mengangkat biduk caturnya. Mata Emros melotot meskipun ia kurang tidur akibat semalam tetangganya terus menerus berlatih pianika.
“Aduh!”
Amros dan Emros serentak menengok. Gadis itu menabrak pohon dan terjengkang.
Piy masih terus gundah. Hitam.
“Sakit, Neng?” tanya Amros.
“Pasti sakit, Amros,” jawab Emros.
Gadis itu masih terkapar. Putaran roda-roda di sepatunya semakin melemah.
“Pasti sakit, ya, Emros?” tanya Amros.  
“Ya, aku pikir begitu,” jawab Emros.   
 Pak Khaidir, mantan psikiater, menelepon Amros. Suaranya agak cempreng. 
”Halo Amros..”
“Halo Pak Khaidir.”
“Lagi apa?”
“Main catur.”
“Lawan siapa?”
“Emros, Pak Khaidir.”
“Oh, si Emros…”
“Iya…”
“Kapan-kapan lawan saya, dong…”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Emros jago, nggak?”
“Jago, Pak Khaidir.”
“Kalau gitu, kapan-kapan saya lawan Emros saja!”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Baiklah, kalau begitu, silakan dilanjutkan main caturnya.”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Oh, ya, Amros… Kamu kurang jago, ya, main catur?”
“Sudah lama nggak latihan, Pak Khaidir.”
“Oh, begitu. Latihan yang rajin, ya, Amros…”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Oke kalau begitu, saya udahan dulu, ya, neleponnya.”
“Kenapa, Pak Khaidir?”
“Saya mau pergi.”
“Oh, begitu…”
“Iya…”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon ditutup. Sesaat kemudian HP Amros berbunyi lagi.
“Halo?”
“Eh, Amros…”
“Iya, Pak Khaidir, ada apa?”
“Maaf, kepencet.”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon ditutup. Sesaat kemudian HP Emros berbunyi.
“Halo?”
“Halo, Emros?”
“Iya. Ini siapa, ya?”
“Pak Khaidir…”
“Oh, Pak Khaidir. Ya, ada apa, Pak Khaidir?’
“Kamu lagi main catur, ya, lawan Amros?”
“Iya, Pak Khaidir…”
“Seru?”
“Seru, Pak Khaidir.”
“Amros jago, nggak, mainnya?”
“Jago, Pak Khaidir.”
“Beneran jago?”
“Iya, Pak Khaidir. Jago!”
“Asli?”
“Asli!”
“Oh, begitu…”
“Memangnya kenapa, Pak Khaidir?”
“Nggak…”
“Nggak apa, Pak Khaidir?”
“Tadinya saya mau ajak kamu main catur lawan saya…”
“Oh, boleh, Pak Khaidir. Mau kapan?”
 “Tapi, Amros jago?”
“Jago, Pak Khaidir!”
“Apa saya lawan Amros saja, ya?”
“Wah, silakan, Pak Khaidir.”
“Kamu nggak apa-apa?”
“Memangnya kenapa, Pak Khaidir?”
“Kamu gak kecewa?”
“Nggak, kok, Pak Khaidir.”
“Betul?”
“Betul.”
“Sungguh?’
“Sungguh.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Kalau begitu, udahan dulu, ya, teleponnya?”
 “Terserah, Pak Khaidir.”
“Ok.”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon ditutup.
Gadis bersepadu roda mulai siuman. Teleponnya berbunyi.
“Halo?”
“Halo.”
“Apa kabar gadis bersepatu roda?”
“Saya habis nabrak pohon.”
“Lalu?”
“Pingsan.”
“Lalu?”
“Siuman.”
“Lalu?”
“Pak Khaidir menelepon saya.”
“Oh, begitu…”
“Iya, Pak Khaidir…”
“Ya, ya, ya..”
“Kenapa, Pak Khaidir?”
“Kenapa apa?”
“Kenapa menelepon?”
“Oh..”
“Oh, apa, Pak Khaidir?”
“Itu, saya mau ngajak kamu main catur.”
“Kapan, Pak Khaidir?”
“Kapan kamu siap…”
“Saya selalu siap, Pak Khaidir!”
“Tapi kamu baru saja siuman…”
“Sudah segar, Pak Khaidir!”
“Betulkah?”
“Betul, Pak Khaidir!”
“Sepatu roda kamu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, Pak Khaidir!”
“Syukurlah…”
“Iya, Pak Khaidir.”
“Warnanya masih hijau?”
“Masih, Pak Khaidir.”
“Tidak berubah, ya?”
“Tidak, Pak Khaidir.”
“Bukannya hitam?”
“Ada hitamnya sedikit, Pak Khaidir!”
“Baiklah, kalau begitu. Tapi, kamu sudah tambah jago belum main caturnya?”
“Belum, Pak Khaidir.”
“Belum?”
“Iya, belum.”
“Masih seperti minggu lalu?”
“Masih, Pak Khaidir. Mungkin menurun…”
“Kenapa menurun?”
“Karena tidak dilatih lagi, Pak Khaidir.”
“Terlalu sibuk dengan sepatu roda?”
“Tidak juga, Pak Khaidir.”
“Lalu kenapa?”
“Tidak ada lawannya, Pak Khaidir.”
“Tidak coba main online?”
“Belum, Pak Khaidir.”
“Tidak berlatih jurus sendirian di kamar?”
“Tidak, Pak Khaidir.”
“Oh, begitu…”
“Iya…”
“Hmmm….”
“Gimana, Pak Khaidir?”
“Nanti saya telepon lagi, ya…”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon ditutup. 
Area merokok sebuah gerai donat, tempat Piy biasa menghabiskan waktu bekerja. Kipas angin di langit-langit berputar konstan dengan suara seperti meringkik. Suara itu turut menenggelamkan kegundahan Piy. Di meja, kopi hitamnya sudah lama tidak mengepul. 
Ini cangkir ketiga. Isi: nyaris tandas.
Piy masih bersama pikirannya. Hitam.
Sepatu kanannya ia ketuk-ketukkan ke lantai. Hitam.
Piy mencabut satu helai janggutnya. Putih.
Telepon berbunyi.
Piy melihat nama di layar posel. Tidak diangkatnya.
“Mas, mau tambah minum?” tanya penjaja donat. Diseragamnya tertulis namanya: Hania.
“Belum, Hania.”
“Saya bukan Hania. Tadi pagi saya terburu-buru berangkat ke sini, lupa membawa seragam kerja. Ini saya pinjam punya teman saya, Hania. Nama saya Tina, Mas.”
Piy tersenyum kecil-kecilan. Tina tersenyum sedikit lebih besar. 
Telepon Tina berbunyi. 
“Halo?”
“Sebentar, ya, Mas, saya jawab telepon dulu, “ ujar Tina sopan kepada Piy.
Piy mengangkat tangan tanda mengerti.
“Ya, halo?”
“Apa kabar, Hania?”
“Saya bukan Hania, saya Tina.”
“Oh, iya, Tina…”
“Lupa, ya, Pak Khaidir?”
“Tadi lupa. Sekarang tidak.”
“Ada apa, Pak Khaidir?”
“Tina sedang sibuk?”
“Ya, sibuk biasa, Pak Khaidir.”
“Di gerai donat?”
“Iya, Pak Khaidir.”
“Hari ini kamu makan donat?”
“Belum Pak Khaidir.”
“Jadi makan apa?”
“Ya, ada lah, Pak Khaidir.”
“Oh, ya, ya…”
“Kenapa, Pak Khaidir?”
“Saya mau ajak kamu main catur…”
“Sekarang, Pak Khaidir?”
“Sekarang saya lagi main catur.”
“Oh, jadi kapan, dong, Pak Khaidir?”
“Kapan, ya?”
“Lho, kok malah tanya saya?”
 “Saya lihat jadwal saya dulu, ya, Hania..”
“Tina, Pak Khaidir.”
“Oh, iya, Tina.”
“Lupa, Pak Khaidir?”
“Tadi lupa. Sekarang tidak.”
“Baik, Pak Khaidir.”
“Nanti saya hubungi lagi, ya?”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Tapi kamu sudah makin jago main caturnya?”
“Sedikit, Pak Khaidir.”
“Oh, ya? Surprise, saya..”
“Begitulah, Pak Khaidir.”
“Baiklah, nanti saya telepon lagi, ya, Hania?”
“Tina, Pak Khaidir.”
“Oh, iya, Tina.”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Nanti caturnya pakai punya saya saja.”
“Siap, Pak Khaidir.”
“Saya baru beli papan catur.”
“Impor, Pak Khaidir?”
“Lokal.”
“Siap, Pak Khaidir!”
“Terakhir main, benteng kamu mati, ya?”
“Dua-duanya, Pak Khaidir.”
“Bukan satu?”
“Dua, Pak Khaidir.”
“Oh, ya, ya.”
“Lupa, Pak Khaidir?”
“Tadi lupa. Sekarang ingat.”
“Sip, Pak Khaidir.”
“Baiklah Tina, udahan dulu, ya. Lawan saya sudah menunggu langkah saya.”
“Terdesak, Pak Khaidir?”
“Tidak.”
“Siap, Pak Khaidir!”
Telepon dimatikan.
Diam-diam Piy memperhatikan obrolan itu, kemudian dia ingin menumpahkan kekusutannya.
“Tina?”
“Ya, Mas?”
“Kamu tahu kenapa saya bingung?”
“Mas lagi bingung?”
“Iya.”
“Kenapa, Mas?”
“Saya dipecat jadi buzzer.”
“Wah!”
“Ya!”
Pandangan Piy kembali menerawang, matanyanya kosong. Tina bisa melihatnya.
“Kenapa Mas dipecat?”
“Saya tidak tahu.”
“Padahal Mas jago?”
“Mungkin bukan jago,” Piy merendah, ”tapi berpengalaman.”
“Apa karena budget untuk buzzer dikorupsi?”
“Oh, itu hoaks,” jawab Piy cepat.  
Tina mengangguk-anggukan kepala.
Di depan mereka, tampak seorang gadis bersepatu roda melintas. Gadis muda yang ingin bugar dan bergaya. Sepatu rodanya berwarna hijau cerah dengan sedikit aksen garis hitam. Jidatnya diperban.

Berhitung Mundur Menuju Album FSTVLST II : Menyoal Etos Keterlibatan

6:34 PM 0
Berhitung Mundur Menuju Album FSTVLST II : Menyoal Etos Keterlibatan
Sumber : https://www.instagram.com/fstvlst/
Beberapa tahun lalu, sebelum akhirnya album HITS KITSCH tiba di tangan saya di suatu sore yang mendung, saya pernah menulis untuk blog FSTVLST tentang bagaimana idealnya menjadi penunggu yang baik. Saat itu saya menjadi penyaksi bagaimana hampir setiap malam ketika Gulita Benderang memberikan kesempatan untuk bertanya apa saja dan yang memenuhi lini masa adalah pertanyaan kapan album baru dirilis. Atau di hampir semua panggung yang saat itu belum seproduktif beberapa tahun terakhir, maspak Gulita Benderang dengan sabar terus meyakinkan kepada para pengantusias FSTVLST bahwa masa itu akan datang.

Tulisan yang saya lupa bertajuk apa persisnya itu kira-kira berisi tips sederhana untuk menjadi bagian dari album yang ditunggu. Ketimbang menjadi penunggu pasif dan tak berbuat apa-apa untuk sesuatu yang dinanti, lebih baik menjadi penunggu aktif dengan mengirimkan sebanyak-banyaknya sinyal berupa cerita, attitude di depan panggung, obrolan akrab setelah panggung rendah tanpa barikade atau lewat medium apa saja yang harapannya dengan menjadi amunisi bagi karya yang dinantikan lama saat itu.

Ajakan bagi teman-teman Festivalist untuk terlibat dan menjadi bagian dari album baru yang saat itu masih berbentuk tanda tanya, meski penandanya yang dimulai dengan Tuhan, Setan atau Malaikat (yang kemudian menjadi Tanah Indah untuk Para Terabaikan) dan kemudian Hari Terakhir Peradaban sudah mengudara, tentu bukan hanya inisiatif tanpa preseden.

Sejak pertama kali bertemu Jenny 10 tahun lalu yang kemudian bermetamorfosa menjadi FSTVLST tak begitu lama setelah perjumpaan pertama yang selalu saya syukuri itu, pelibatan dan keterlibatan para pengantusias yang kemudian diberi nama Festivalist atau Teman Pencerita, Klub Mati Muda di era Jenny telah menjadi serupa etos yang mewajah dalam bentuk-bentuk yang sederhana namun membekas. Paling tidak bagi saya dan tentu banyak teman yang menjadi bagian dari kisah panggung-panggung penuh peluh plus “dakwah” singkat tentang keseteraan, kebahagiaan yang sederhana yang kemudian selalu berakhir dengan sangat kosmopolit di Angkringan Pak Tegho yang setara itu. 

Dan menariknya karena ruang kemungkinan untuk pelibatan tersebut tak melulu berharap pada kehendak alam sehingga semuanya tak selalu berjalan alamiah dan insidentil. Sebaliknya ruang-ruang tersebut adalah hasil dari konstruksi dan buah pikir bersama. Saya ingat benar bagaimana teman-teman Festivalist menginisiasi Buka Puasa bersama yang diawali dengan gigs mikro nan sederhana di depan sebuah distro yang tak jauh dari UNY. Yang kemudian diulangi lagi di tahun berikutnya. Momentum seperti ini tentu tidak hanya tentang “bertemu dengan band idola”, tapi lebih jauh tentang sebuah etos yang mesti diperjuangkan bersama. Etos menjadi setara dengan cara-cara yang sederhana.

Sekelumit kisah diatas tentu hanya sedikit dari banyak inisiatif dengan nafas serupa yang menariknya kini berbentuk dalam banyak cara dan strategi. Termasuk saat album HITS KITSCH dan kemudian Album FSTVLST II hendak dirilis. 

Kalau teman-teman memperhatikan dengan jeli, etos pelibatan juga dikonstruksi FSTVLST saat hendak merilis HITS KITSCH dengan membuka dapur proses kreatif album tersebut dengan segala detailnya yang sungguh untuk strategi taktik pemasaran sangatlah ciamik. Targetnya memang seolah hanya agar setiap orang dapat menghargai karya dan karenanya malu melakukan hal-hal yang alih-alih menunjukkan cinta namun sebenarnya luka bahkan dalam bentuk yang paling lunak dengan rajin bertanya “bisa minta link download gak mas?”. Namun bagi saya siasat ini adalah bagian dari pelibatan tersebut. Pelibatan yang (harusnya) mampu memangkas jarak eksklusifitas dengan tidak penting antara band dan para pengantusias. 

Siasat serupa kembali ditempuh FSTVLST di detik-detik menghitung mundur menuju album FSTVLST II. Tak percaya? Silahkan lacak apa yang sudah dilakukan kolektif ini sejak mereka mulai melempar beberapa nomor lagu di album berikutnya secara gratis seperti udara di pagi hari dengan syarat yang lebih mudah dari membuat akun Tiktok pertamamu. Kamu cukup menuliskan biodata singkatmu dan kemudian kamu tercatat menjadi bagian dari penyebarluasan karya. Setelah itu silahkan menikmati karya-karya yang tersedia. Hingga yang paling anyar, ajakan untuk menabung lima puluh ribu untuk password memiliki rilisan yang semoga akan segera rilis. 

Sumber: https://www.instagram.com/fstvlst/
Selain sebagai strategi branding, bagi saya inisiatif-inisiatif ini adalah bagian dari siasat untuk bercakap dengan para pengantusias FSTVLST. Temanya masih sama, masih di seputar hal-hal keseharian dan yang kita hidupi sehari-hari. Dan berbagai inisiatif untuk terus menghelat percakapan dengan banyak medium yang dilakukan FSTVLST saya kira adalah upaya lain untuk memberi wajah nyata dari karya-karya mereka sejak Manifesto hingga yang Kedua nanti. Tak percaya lagi? Coba perhatikan dengan seksama nomor-nomor yang sudah bisa kamu unduh seperti Gas!, Rupa, Mesin dan lainnya.

Akhirnya, ini masih tentang ajakan untuk terlibat bersama dan “menghidupi” FSTVLST dengan terus menginisiasi percakapan dengan cara kita masing-masing serta terus merayakan hari-hari yang nampaknya belakangan ini tak begitu mudah kita jalani. Mungkin dengan begitu kita akan bisa saling menguatkan.

Mari menunggu.

Belia Pagi
Wesabbe, 15 Juni 2020