KBJamming 25 : Jalan yang Mempertemukan - KEDAI BUKU JENNY

KBJamming 25 : Jalan yang Mempertemukan

Penulis : Nurul "Ruri" Fajri
Sore kemarin, (22/11/2019) adalah KBJamming pertama saya. Dua puluh empat volume sebelumnya saya alpa dan ini barangkali dikarenakan saya, seperti banyolan banyak kawan, anaknya kurang pergaulan, atau mainnya kurang jauh. Seperti ketika Kak Bob membuka KBJamming vol.25 dengan, 

“Deh, 25 (volume) mi. Nda nyangkaku.” Saya pun tidak menyangka baru dapat hadir pada volume ke-25nya.
KBJamming vol.25 dengan tema Karya dan Perjalanan dibuka dengan sesi bincang-bincang bersama Hendra (SURGIR), band as al Makassar, Eko (Latter Smil) dari Palu, dan Lovy (SUN) dari Kotamobagu. Dua terakhir akan menjadi penampil di perhelatan musik Rock in Celebes, 23-24 November 2019, karenanya ini menjadi tur pertama mereka di Makassar. Sementara Hendra, pernah terlibat dalam tur Riuh Berderau sekitar 2012 yang dalam tuturan Kak Bob, 

“Turnya dikerjakan relatif komprehensif, semangat kolektifannya terasa, dan gaungnya pada masa itu cukup besar.”

Saat Kak Bob melempar pertanyaan bagaimana mereka memaknai tur sebagai pelaku musik, dua dari tiga pembicara menjawab, “Sebenarnya karena mau jalan-jalan.”Tentu saja jalan-jalan adalah konsep menyenangkan yang sama pentingnya dengan misi lain setelahnya. Dan jalan-jalan di sini dapat dipahami sebagai persoalan yang tak sesederhana itu. Untuk mewujudkan urusan jalan-jalan ini terdapat usaha besar yang bercokol di baliknya. 
Jauh-jauh dari Palu dan Kotamobagu, Latter Smil dan SUN di awal harus melalui tahapan seleksi untuk terpilih tampil di Rock in Celebes. Lalu persiapan fisik, logistic, dan hal-hal yang butuh kerja sama-sama untuk mewujudkannya. Bagi Eko, Lovy, dan Hendra, agenda berikutnya selain jalan-jalan adalah upaya berjejaring, sekaligus memperkenalkan skena musik dan budaya dari mana mereka berasal.

Selain misi perkenalan, ketika tur Riuh Berderau kenang Hendra, mereka juga belajar mengenal skena musik daerah lokasi tur mereka. Cara yang mereka tempuh dengan mengajak kolaborasi musisi lokal untuk tiap penampilan. Saat di Palu misalnya, mereka berkolaborasi dengan seorang pemain instrumen tiup bernama Anto. 

“Jadi kita juga mengenalmi musiknya, orangnya, budayanya. Banyak pelajaran kita bawa pulang. Bukan Cuma makanannya,” katanya disambut tawa audiens.

Saya jadi teringat film Whisper of The Heart yang saya tonton dua hari lalu. Dalam perjalanannya mengantar kotak makan siang ayahnya ke perpustakaan, Shizuku hampir lalai karena membuntuti seekor kucing yang dijumpainya di kereta dan membuatnya berakhir di sebuah toko barang antik. Dari sana cerita Shizuku dan tokoh Amasawa terus bergulir, dari waktu ke waktu Shizuku bergumul menuntaskan apa yang sudah dia mulai. Begitulah bagaimana satu perjalanan melahirkan percabangan-percabangan lain.

Tak lama bincang-bincang sore itu berakhir lalu dilanjutkan penampilan dari SUN, Hirah Sanada, dan Latter Smil. Dari pojok belakang, saya berdiri sedikit maju ketika SUN sudah tiba di separuh lagu kedua. Ketika menyanyikan lagunya yang berjudul Santuy, saya seperti sedang berada di tengah orang-orang yang menikmati jenis akhir pekan paling merdeka di sudut kota yang kian hari kian ditumbuhi pasak-pasak. 
SUN (Kotamobagu) 
Ketika Hirah Sanada yang datang terlambat memulai lagunya, saya undur diri kembali ke pojok, mendengarkan sambil menatap ubin lamat-lamat. Mas di seberang saya berceletuk,

“Kukira Nadin.” Dalam hati saya menimpali
Hirah Sanada (Makassar) 
“Ya Mas, saya pun berpikir demikian.” Ketika Latter Smil melanjutkan sebagai penampil terakhir saya sudah berdiri lebih belakang, di sebelah pagar, berdiri bersisian dengan Era yang baru datang. Era bilang Latter Smil mengingatkannya pada Figura Renata. Saya menyetel Rasa Dan Karsa kali pertama di peranti musik streaming ponsel saya saat mengetik kalimat ini. 
Latter Smile (Palu) 
Pada lagu terakhirnya, dari belakang, dari jarak itu, saya menarik pandangan dari dua orang pemusik di hadapan saya menyusur naik ke atap KBJ lalu ke langit lalu pesawat terbang dan awan abu-abu dan sore dengan sedikit jingga yang pudar.
Jalan-jalan ke KBJamming Vol.25 berakhir dengan tepuk tangan yang tidak riuh tetapi hangat. Selalu. Jalan selalu mempertemukan dengan banyak kemungkinan, seperti teman-teman dalam turnya. Seperti saya dalam KBJamming.

No comments:

Post a Comment