December 2019 - KEDAI BUKU JENNY

KBJamming 25 : Jalan yang Mempertemukan

9:27 PM 0
KBJamming 25 : Jalan yang Mempertemukan
Penulis : Nurul "Ruri" Fajri
Sore kemarin, (22/11/2019) adalah KBJamming pertama saya. Dua puluh empat volume sebelumnya saya alpa dan ini barangkali dikarenakan saya, seperti banyolan banyak kawan, anaknya kurang pergaulan, atau mainnya kurang jauh. Seperti ketika Kak Bob membuka KBJamming vol.25 dengan, 

“Deh, 25 (volume) mi. Nda nyangkaku.” Saya pun tidak menyangka baru dapat hadir pada volume ke-25nya.
KBJamming vol.25 dengan tema Karya dan Perjalanan dibuka dengan sesi bincang-bincang bersama Hendra (SURGIR), band as al Makassar, Eko (Latter Smil) dari Palu, dan Lovy (SUN) dari Kotamobagu. Dua terakhir akan menjadi penampil di perhelatan musik Rock in Celebes, 23-24 November 2019, karenanya ini menjadi tur pertama mereka di Makassar. Sementara Hendra, pernah terlibat dalam tur Riuh Berderau sekitar 2012 yang dalam tuturan Kak Bob, 

“Turnya dikerjakan relatif komprehensif, semangat kolektifannya terasa, dan gaungnya pada masa itu cukup besar.”

Saat Kak Bob melempar pertanyaan bagaimana mereka memaknai tur sebagai pelaku musik, dua dari tiga pembicara menjawab, “Sebenarnya karena mau jalan-jalan.”Tentu saja jalan-jalan adalah konsep menyenangkan yang sama pentingnya dengan misi lain setelahnya. Dan jalan-jalan di sini dapat dipahami sebagai persoalan yang tak sesederhana itu. Untuk mewujudkan urusan jalan-jalan ini terdapat usaha besar yang bercokol di baliknya. 
Jauh-jauh dari Palu dan Kotamobagu, Latter Smil dan SUN di awal harus melalui tahapan seleksi untuk terpilih tampil di Rock in Celebes. Lalu persiapan fisik, logistic, dan hal-hal yang butuh kerja sama-sama untuk mewujudkannya. Bagi Eko, Lovy, dan Hendra, agenda berikutnya selain jalan-jalan adalah upaya berjejaring, sekaligus memperkenalkan skena musik dan budaya dari mana mereka berasal.

Selain misi perkenalan, ketika tur Riuh Berderau kenang Hendra, mereka juga belajar mengenal skena musik daerah lokasi tur mereka. Cara yang mereka tempuh dengan mengajak kolaborasi musisi lokal untuk tiap penampilan. Saat di Palu misalnya, mereka berkolaborasi dengan seorang pemain instrumen tiup bernama Anto. 

“Jadi kita juga mengenalmi musiknya, orangnya, budayanya. Banyak pelajaran kita bawa pulang. Bukan Cuma makanannya,” katanya disambut tawa audiens.

Saya jadi teringat film Whisper of The Heart yang saya tonton dua hari lalu. Dalam perjalanannya mengantar kotak makan siang ayahnya ke perpustakaan, Shizuku hampir lalai karena membuntuti seekor kucing yang dijumpainya di kereta dan membuatnya berakhir di sebuah toko barang antik. Dari sana cerita Shizuku dan tokoh Amasawa terus bergulir, dari waktu ke waktu Shizuku bergumul menuntaskan apa yang sudah dia mulai. Begitulah bagaimana satu perjalanan melahirkan percabangan-percabangan lain.

Tak lama bincang-bincang sore itu berakhir lalu dilanjutkan penampilan dari SUN, Hirah Sanada, dan Latter Smil. Dari pojok belakang, saya berdiri sedikit maju ketika SUN sudah tiba di separuh lagu kedua. Ketika menyanyikan lagunya yang berjudul Santuy, saya seperti sedang berada di tengah orang-orang yang menikmati jenis akhir pekan paling merdeka di sudut kota yang kian hari kian ditumbuhi pasak-pasak. 
SUN (Kotamobagu) 
Ketika Hirah Sanada yang datang terlambat memulai lagunya, saya undur diri kembali ke pojok, mendengarkan sambil menatap ubin lamat-lamat. Mas di seberang saya berceletuk,

“Kukira Nadin.” Dalam hati saya menimpali
Hirah Sanada (Makassar) 
“Ya Mas, saya pun berpikir demikian.” Ketika Latter Smil melanjutkan sebagai penampil terakhir saya sudah berdiri lebih belakang, di sebelah pagar, berdiri bersisian dengan Era yang baru datang. Era bilang Latter Smil mengingatkannya pada Figura Renata. Saya menyetel Rasa Dan Karsa kali pertama di peranti musik streaming ponsel saya saat mengetik kalimat ini. 
Latter Smile (Palu) 
Pada lagu terakhirnya, dari belakang, dari jarak itu, saya menarik pandangan dari dua orang pemusik di hadapan saya menyusur naik ke atap KBJ lalu ke langit lalu pesawat terbang dan awan abu-abu dan sore dengan sedikit jingga yang pudar.
Jalan-jalan ke KBJamming Vol.25 berakhir dengan tepuk tangan yang tidak riuh tetapi hangat. Selalu. Jalan selalu mempertemukan dengan banyak kemungkinan, seperti teman-teman dalam turnya. Seperti saya dalam KBJamming.

Menonton FSTVLST, Menyambangi Keluarga dan Sensasi-Sensasi Masa Lalu

5:14 PM 0
Menonton FSTVLST, Menyambangi Keluarga dan Sensasi-Sensasi Masa Lalu
Penulis: Zulkhair "Bobhy" Burhan

Foto : Muh. Ardha/ @muh.ardha

Mendengar kabar jika FSTVLST akan manggung lagi di Makassar selalu menggembirakan. Tapi awal bulan lalu, saat mendapatkan kabar itu dari Rahmat yang saat itu masih sedang berada di Jogja dan akan segera menyelesaikan masa magangnya di Libstud, kegembiraan yang saya rasakan tak lagi seperti saat pertama mendengar kabar serupa di tahun 2015 saat FSTVLST akan manggung di Rock in Celebes. Saat itu kegembiraan yang saya rasakan dan tentu juga dirasakan kawan-kawan yang lain adalah serupa kegembiraan para pengantusias sebuah band yang akhirnya bisa menyaksikan langsung band idolanya. Tapi kali ini rasanya lebih dalam dari itu. Kegembiraan yang saya rasakan seperti saat hendak menyambangi keluarga yang telah lama tak bersua dan tak sabar menemui kenangan dan cerita-cerita masa lalu.

Dua hari sebelum panggung FSTVLST, Rahmat kembali memberi kabar jika Jumat malam (6 Desember 2019) FSTVLST dan para kru akan tiba di Makassar. Biasanya jika mendengar kabar seperti itu saya akan langsung menghubungi maspak Farid Stevy untuk sekadar memastikan info yang baru saya dengar. Tapi kali ini saya memilih untuk membiarkan semua berjalan alamiah saja. Sambil berharap bahwa upayaku untuk menemui kenangan dan cerita-cerita masa lalu dan sensasi saat mendatangi panggung-panggung Jenny atau FSTVLST akan saya jumpai tanpa kontruksi yang disengaja karena privilege ini itu.

Tiket masuk ke festival yang menghadirkan FSTVLST sudah saya kantongi dengan bantuan seorang mahasiswa saya yang juga rajin menyambangi konser-konser musik di kota ini dua hari sebelum hari yang saya tunggu. Dan hari itu juga, seperti kabar dari Rahmat sebelumnya, FSTVLST tiba di Makassar. Dan lagi, saya tak terlalu reaktif. Masih godaan untuk sekadar menanyakan kabar kapan tiba atau mengucapkan selamat datang tak saya lakukan. Masih berharap biarlah semuanya wajar apa adanya sambil menanti kejutan apa yang akan diberikan Sang Waktu.