KBJamming vol 24 dan Selingkar Wilayahnya - KEDAI BUKU JENNY

KBJamming vol 24 dan Selingkar Wilayahnya

Penulis : Ari Zulkifli


Kedai Buku Jenny (KBJ) dengan kesederhanaanya kembali menggelar KBJamming vol 24, yang bertema ‘Musik dan Kita yang Mestinya Mencatat’. Bertempat di kompleks perumahan Wessabbe blok C17 Tamalanrea. Rumah sederhana, berukuran 5x4 meter, tidak bertingkat, beralas semen, dan penuh dengan hiasan seperti lukisan tembok, awan buatan, tulisan-tulisan tangan, gantungan-gantungan yang terbuat dari sisa botol plastik, rumput liar, tanaman, dan tentu saja buku dan rilisan fisik musik (CD dan Kaset Pita).

Jumat 12 juli 2019, pukul 10:13 WIT, bulan tergantung bersinar dan malam semakin dingin, suasana perumahan semakin sepi, tapi tidak untuk rumah sederhana milik Zulkhair ‘Bobhy’ Burhan dan Harnita Rahman. Orang-orang mencari posisi yang nyaman dan mulai
menikmati petikan-petikan gitar dan suara berat tapi mendayu dari Penenun Kata, yang pada malam penuh tawa itu menyanyikan Intim, Insomnia, Tenun Romansa dan Intim Bersama Hujan, yang merupakan 4 lagu dari album terbarunya.

Terbentuk pada tahun 2015, Penenun Kata, merupakan proyek musik asal Makassar yang kini berdomisili di Bandung, dan sedang melakukan tur ‘Tenun Romansa’ ke beberapa kota di Indonesia, dalam rangka memperkenalkan album terbarunya yang berjudul Batas Makna. Muslih Saputra, yang akrab di sapa Lhink (Vocalis sekaligus Gitaris) mengatakan bahwa, “nafas dari Penenun Kata adalah kata-kata atau lirik itu sendiri, dan sangat sepakat bahwa tema yang di angkat dalam KBJamming vol 24 kali ini adalah Musik dan Kita yang Mestinya Mencatat sebab musisi dan seorang jurnalis musik tidak bisa terlepas dan tentu saja memiliki hubungan yang timbal-balik atau simbiosis mutualisme”

Sore harinya. Sebelum live musik berlangsung. Dan sebelum orang-orang mulai ramai berdatangan. Dan sebelum malam menabrak, KBJamming vol 24 mengadakan sebuah diskusi kecil-kecilan yang berusaha membedah buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya karya Idhar Resmadi. Rahmat Maulana sebagai pembedah dan Zulkhair ‘Bobhy’ Burhan sebagai Moderator. Mungkin jika kau sering datang ke beberapa seminar atau diskusi perihal musik pasti kau tidak asing lagi dengan nama dan wajah dari orang yang akrab di sapa Bobhy ini. Gelar Master of Moderator mungkin harus kita sematkan padanya sebagai tanda terima kasih.




Jumat 12 juli 2019, pukul 16:00 WIT, tapi orang-orang belum juga berdatangan, mungkin matahari yang masih terasa panas dan kemacetan kota Makassar pada sore hari membuat ada sedikit kemalasan untuk datang tepat waktu, atau mungkin juga sebagian orang memang tidak tahu atau tidak merasa perlu datang ke KBJamming, atau bisa juga bahwa memang kita orang Indonesia takut datang lebih awal karena malu jika pergi ke suatu tempat dengan sendiri dan tidak ada yang di kenali.

Tetapi, lambat laun orang-orang mulai berdatangan dan mulai mencari posisi dan kursi untuk mencoba membaur dan melebur dengan suasana diskusi yang terpakasa langsung di adakan hanya dengan beberapa orang yang datang tepat waktu.

Diskusi buku menjelang magrib hari itu juga di hadiri oleh teman-teman dari Kapal Udara dan Ruang Baca, dan juga beberapa teman dari kampus yang berbeda-beda di Makassar. Dan sebagai penutup diskusi Mas Damar sebagai dosen di salah satu kampus Makassar mengatakan bahwa “sebenarnya segala hal tentang seni harus di ulas dalam bentuk apapun dengan kritis. Dalam hal ini, saya mencoba membuat pola bahwa sebenarnya, apa yang kita selama ini anggap baru, sebenarnya adalah pengulangan-pengulangan dari masa lalu. Dan pentingnya jurnalisme musik sebenarnya ialah pelatihan interpretasi. Dan ketika ruang-ruang kreativitas atau apapun itu, tidak mempunyai interupsi atau sebuah kritik atau sebuah ulasan sama sekali, mereka akan menjadi adikuasa dan akan terjadi keseragaman, dalam artian musik akan menjadi sesuatu yang eksklusif,  karena tidak ada ulasan sama sekali, dan tidak ada ruang-ruang kritik. Kritik dalam artian bukan hanya sekedar judgement”

Selepas diskusi, KBJamming di jeda sampai selesai salat Isya, tentu saja untuk menghargai suara adzan dan orang-orang yang sedang menunaikan ibadah. Selama jeda kekosongan itu beberapa orang terlihat saling bercakap-cakap, beberapa baru saling mengenal dan beberapa lagi memang telah saling mengenal. Di dalam ruangan terlihat Ruang Baca dan Penenun Kata terlihat saling bertukar album mereka dan saling meminta tanda tangan. Di luar ruangan beberapa orang lelaki terlihat saling menawari rokok, membakarnya, lalu menghisapnya sambil bercerita dan sesekali tertawa kecil bila perlu. Sementara itu, di luar pagar, beberapa orang terlihat sedang sibuk mencari parkiran kosong dan beberapa orang ngobrol di pinggir jalan sambil berdiri dan sesekali membuat senyuman lebar setengah tertawa jika diperlukan.

Dan selepas salat Isya, pukul 20:33 WIT, barulah Halfmoon mulai memecah jeda kekosongan itu, semua orang mulai merapat dan mendekat mencari kursi kosong.  Tidak seperti Penenun Kata, yang hanya seorang diri, Halfmoon terdiri dari Yudi (lead guitar), Ari (rhythm guitar), dan vokalis terbaru mereka Fey. Nama Halfmoon sendiri sebenarnya adalah sebuah lagu dari band asal Jepang bernama Depapepe. Lalu dengan suara lembut dan mendayu dari Fey dan petikan-petikan gitar dari Yudi dan Ari, membuat siapa saja yang ada malam itu akan terdiam dan mulai menikmatinya. Dan setelah membawakan 2 lagu, Halfmoon menutup penampilannya dengan singel pertama mereka dan merupakan soundtrack dari webseries Terima Kost Putri garapan Rusmin Nuryadin, berjudul I don’t  See the Moon yang menghipnotis siapa saja malam itu, termasuk orang di sebelah saya saat itu, Amy Rahmiyanti yang dengan percaya diri ikut menyanyikan lagu yang ia simpan baik di kepalanya.


Halfmoon

Sama seperti Penun Kata, Halfmoon juga sangat setuju jika seorang jurnalis musik dan seorang musisi memiliki hubungan timbal-balik, dan terutama musisi indie seperti mereka, sangat membutuhkan seorang jurnalis musik, bukan hanya sekedar wartawan biasa. “Jurnalisme musik sangat membantu dalam Halfmoon sendiri, contohnya ketika kita mengeluarkan singel I don’t See the Moon, beberapa media membantu kami memperkenalkannya” ujar Yudi sambil menatap Fey di sebelahnya.

Skin n Blister sebagai penampil berikutnya, juga membawakan tiga lagu mereka, dan sama seperti Halfmoon, Skin and Blister terdiri dari tiga orang, tapi perbedaanya, Skin and Blister ketiganya adalah perempuan, Nisa (gitar, vokal), Iedil (drum, vokal latar), dan Viny (bass, vokal latar), dan ketiganya juga memiliki band masing-masing diluar Skin and Blister.

Berbeda dari penampilan-penampilan Skin and Blister pada umumnya, di KBJamming vol 24 ini, mereka tampil dengan format akustik, untuk pertama kalinya. Dan di sela-sela penampilan Skin and Blister, Zulkhair Burhan menyampaikan bahwa “bukan hanya Skin and Blister yang pertama kali tampil akustik, bahkan band sekelas Speed Instinct, tampil akustik pertama kali dan hanya sekali, yaitu di KBJamming.”

Skin and Blister

Skin and Blister menutup penampilannya dengan singel Yes! Yes! Yes!, yang ditulis oleh Viny, dan mereka perkenalkan pada recordstoreday Makassar tanggal 21 april 2019 lalu,  yang juga bertepatan dengan hari Kartini. Dan masih dengan pendapat yang sama dengan Penenun Kata dan Halfmoon, Skin and Blister berpendapat bahwa peran jurnalisme musik dan seorang musisi adalah hubungan simbiosis mutualisme, dan mereka berterima kasih kepada Kedai Buku Jenny  yang telah mencoba mempertahankan KBJamming hingga vol 24. “semoga KBJamming bisa terus ada sampai berpuluh-puluh tahun ke depan, dan kesannya, sangat intim, menyenangkan, dan seang bisa bertemu teman-teman dan wajah-wajah baru” kata Nisa sambil tertawa kecil.


Penenun Kata

Lalu di sudut ruangan, dekat tembok, dan di sela-sela penonton yang lain, terselip Rahmat Hidayat yang terlihat sangat menikmati live musik KBJamming vol 24, dan selepas KBJamming, teman saya menyampaikan pendapatnya bahwa Skin and Blister memang lebih cocok memainkan format umumnya, dan ia tidak begitu menyukai format akustik dari Skin and Blister. Tapi terlepas dari itu semua, siapa saja yang hadir malam itu akan sepakat bahwa dari ketiga band yang datang pada KBJamming vol 24, Skin and Blister adalah yang paling asik dan menghibur, sebab mampu membuat lelucon-lelucon setelah menyanyikan lagu.

Dan pada akhirnya, semua pertemuan akan selalu ada perpisahan. Malam semakin malam, udara semakin terasa dingin, dan bulan masih saja tergantung dan bersinar. KBJamming malam itu di tutup tapi perbincangan mengenai musik dan kita yang mencatatnya tentu akan terus bergulir.



No comments:

Post a Comment