BukaBuku "Dialektika Seni" - KEDAI BUKU JENNY

BukaBuku "Dialektika Seni"

Penulis : Rahmat Maulana

Foto : Rahmat

PUSTIKA (Pusat Studi Estetika) yang bekerja sama dengan Kedai Buku Jenny menggelar bedah buku Dialektika Seni karya Damar Tri A yang terselenggara pada Kamis, 14 November 2019 di Kedai Buku Jenny. Menghadirkan Damar Tri A (penulis dan akademisi seni) dan Zulkhair “Boby” Burhan (Kedai Buku Jenny) sebagai pembedah, diskusi yang dimoderatori Andi Taslim Saputra (ISBI Sulsel) ini dihadiri oleh belasan orang yang turut memberikan perspektifnya perihal seni dan berbagai kelindan di baliknya. 

Zulkhair “Bobhy” Burhan membuka diskusi dengan menjelaskan hal-hal yangmenurutnya menarik setelah membaca buku Dialektika Seni. Beberapa yang menarik di antaranya adalah seni yang idealnya dapat keluar dari ruang-ruang yang sifatnya elitis sehingga bisa lebih dekat ke masyarakat dan juga minimnya pencatatan dan kritik seni di Makassar. 

Foto : Rahmat

Pengantar dari Bobhy dilanjukan dengan penuturan aang penulis Damar Tri A bahwa, upayanya membawa buku Dialektika Seni untuk didiskusikan diluar ruang-ruang berkesenian seperti galeri dan kampus seni adalah upayanya mendekatkan seni ke ruang-ruang yang tidak segmenteddengan pembahasan isu-iu di ranah berkesenian. Selain itu, buku ini adalah bentuk upaya penulis untuk mendokumentasikan aktivitas berkesenian di Solo dan Makassar. 

Tulisan dalam buku ini juga tidak lepas dari perannya sebagai kritik terhadap seni itu sendiri. Beberapa hal yang juga banyak menarik atensi peserta dalam bedah buku ini adalah perihal matinya kritik seni di Makassar dan Seni dan eksploitasi terhadap perempuan. Menurut penulis, matinya kritik seni disebabkan oleh cara pandang pelaku seni yang melihat kritik dalam ranah berkesenian melulu sebagai judgemen atas ketidak sepakatan terhadap karya yang dihasilkan. Padahal, sejatinya kritik dalam ranah berkesenian adalah bentuk interpretasi atas seni yang dihasilkan. Seni, ketika telah sampai ke masyarakat tentu berpotensi melahirkan interpretasi yang jamak. Dan hal-hal semacam itulah yang membuat seni menjadi dinamis dan dapat menghasilkan bergabagai macam gagasan dan kemungkinan-kemungkinan selanjutnya. 

Tidak dapat dipungkiri, praktik berkesenian menurut penulis, juga terkadang masih belum lepas dari bias gender dan cenderung menjadikan perempuan sebagai objek. Hal-hal semacam inilah yang idealnya juga perlu disadari oleh para pelaku seni agar ruang-ruang berkesenian tidaklah menjadi ruang yang maskulin dan mendiskreditkan peran perempuan di dalamnya. Bias gender, sebisa mungkin harus dihilangkan.

Foto : Rahmat

Membicarakan seni tidak melulu soal keindahan, tidak melulu soal panggung dan penonton, atau galeri dan pengunjungnya. Seni hakekatnya membicarakan kehidupan. Seni lahir dari relasi yang tercipta antara seniman dan orang-orang serta hal-hal yang terkoneksi dengannya. Oleh karena itu, seni seharusnya tidak menjadi pembahasan yang mengawang, sehingga dapat lebih dekat dengan medan sosial yang menjadi tempat di mana seni dilahirkan.

Foto : Rahmat

No comments:

Post a Comment