January 2019 - KEDAI BUKU JENNY

Hening Cipta (Volume 1) Bersama Kapal Udara.

2:25 AM 3
Hening Cipta (Volume 1) Bersama Kapal Udara.

-semacam reportase-

“Berdiskusi mengenai sebuah karya memang bukanlah sesuatu yang baru di dunia ini apalagi di hatimu” kata Mak Erot dalam salah satu bukunya yang paling terkenal dan selalu di cetak ulang berkali-kali; Nanti, Kita Cerita tentang Angka Togel 11:11 dan Konspirasi Tumis Kangkung kepada Alam Semesta. Namun  berangkat dari keinginan untuk membuat ruang diskusi dengan kemasan yang unik. Teman Pencerita Kedai Buku Jenny membuat ruang diskusi dengan nama; Hening Cipta, yang tentu saja tidak asing lagi di telinga. Dan sekelebat ingatan itu muncul lagi saat sedang mengikuti proses upacara setiap hari Senin pagi saat masih sekolah dan setiap hari kemerdekaan tiba (dengan segala jenis alasan yang kau buat untuk tidak mengikuti proses upacara dengan berdalih kurang sehat atau kau ingin buang air kecil ataupun sengaja datang terlambat), ketika kalimat Hening Cipta di ucapkan.

Namun tidak seperti Hening Cipta saat mengikuti proses upacara, sebab tidak dilakukan saat Senin pagi, tidak ada bendera yang dinaikkan dan tidak ada pembina upacara.  Hening Cipta dalam pengertian Teman Pencerita Kedai Buku Jenny adalah upaya megapresiasi karya dengan cara mendengarkannya, mengheningkannya (dalam artian tidak melakukan gerakan tambahan apalagi berlebihan) lalu mendiskusikannya bersama-sama dan gelaran di volume pertama ini, Teman Pencerita memilih karya Kapal Udara.

Kapal Udara, band indie beraliran folk asal kota Makassar. Dengan personelnya yang sekarang yaitu; Ayat sebagai vokal sekaligus gitar, Ale sebagai gitaris sekaligus vocal latar, Dadang sebagai bassis sekaligus vocal latar, dan Bobby sebagai drum. Dengan semboyan Musik mencari teman Kapal Udara kini telah melebarkan layarnya dan telah mempersiapkan album ke duanya, yang mungkin juga masih dengan konsep yang sama dengan album dan lagu-lagu sebelumnya yang mempunyai lirik sederhana, dan musikalitas yang akan membuat siapapun akan merasa senang. Mungkin itu juga telah menjadi ciri khas dari Kapal Udara; lirik sederhana namun bermakna dengan musikalitas yang menyenangkan.

Setelah hujan berhenti lalu hujan lagi lalu berhenti lagi pada hari Jum’at, tanggal 25 Januari 2019 menjelang akan dilaksanakannya Hening cipta bersama Kapal Udara pukul 20:00, saya berpikir sekaligus curiga bahwa cuaca buruk bisa menghilang begitu saja dan hujan tidak turun lagi dikarenakan salah seorang panitia telah membaca karya Mak Erot yang terkenal itu dan mempraktekkannya, sehari sebelum acara dimulai. Memang dalam buku monumental itu di dalam bab 4 menjelaskan cara mengusir dan manangkal cuaca buruk dengan 9 cara dari klasik sampai postmodern. Salah satunya melempar sempak dengan warna black pink ke atas genteng.
“Hening Cipta di mulai” kata Pute’ sebagai moderator, setelah sebelumnya menjelaskan apa itu Hening Cipta, segala hal yang melatarbelakanginya dan kalimat-kalima pembuka seperti biasanya.
Lagu mulai di mainkan dari pemutar musik dengan volume tidak terlalu besar seperti acara dangdutan dan tidak terlalu kecil seperti speaker gawai. Orang-orang terlihat sangat khidmat mendengarkan mini album Seru dari Hulu

Ruang kecil berukuran 3x5 mulai kelihatan padat. Sekitar 20an orang termasuk tim Kapal Udara, sedang mencoba membangun suasana keheningan masing-masing. Mereka menyanyi lirih, menghentakkan kaki, menganggukkan kepala, dan larut dalam suasana di ruang yang kerap menjadi tempat digelarnya ragam aktivitas di Kedai Buku Jenny.

Setelah lagu Merantau mengakhiri Hening Cipta, sesi berikutnya adalah Kita dan Kapal Udara, di sesi ini setiap peserta diharakan bercerita bagaimana pengalamannya mengenal, mendengar dan berteman dengan Kapal Udara. Bobhy sebagai pembicara pertama bercerita tentang pengalamanya mendengar lagu-lagu dari mini album Seru dari Hulu.  Karya itu selalu mengingatkannya pada kampung halaman.

 “setiap pulang kampung saya seperti merasa tidak pulang kampung lagi, saya juga heran dengan itu, maka dari itu bagi saya mendengarkan lagu-lagu dari Kapal Udara seperti mengganti peristiwa yang telah hilang itu.” Katanya.



Suasana diskusi berjalan santai. Sejak awal banyak canda, tawa, celetukan bahkan umpatan-umpatan lucu yang terlontar. Sesi ini memang diupayakan berjalan sehangat mungkin, dengan harapan setiap orang yang hadir, bisa bercerita tanpa beban, bahkan nyaris serupa curhat.

Nita sebagai pembicara kedua, mengaku jika ia paling menyukai lagu Menyambut hanya karena di lagu itu, dari beberapa lagu Kapal Udara, Ale berpusi. Dan kembali orang-orang tertawa lagi.

“dari semua lagu yang ada dari Kapal Udara, saya paling menyukai lagu Menyambut, karena  Ale berpuisi [tertawa]” ucap Kak Nita sambil tertawa.

Yang kemudian di timpali oleh kak Viny sebagai candaan “Firsa Bersaleh [tertawa]”



Falah, salah seorang peserta menyampaikan bahwa setiap kali ia mendengar lagu Menanam, ia akan teringat dengan masa KKNnya 2017 lalu di sebuah desa dengan seorang petani yang sedang menanam di sawah.

“mendengar lagu Menanam saya jadi teringat saat saya mengikuti program KKN 2017 di daerah Takalar. Saya mengingat kemabali para petani yang menanam di sawah dan suasana desa kembali.” ungkap Falah.

Sebagai moderator Pute juga tidak ingin ketinggalan mengeluarkan pendapatnya mengenai mini album Seru dari Hulu, ia mengaku jika ia juga sangat menyukai lagu Menanam

“saya menyukai lagu Menanam sebab setiap mendengar lagu itu saya selalu mengingat ayah saya yang suka menanam di halaman rumah.”  ucap kak Pute’ dengan sederhana.

Rudy, sebagai pembicara selanjutnya dengan sedikit kegugupan yang ia lawan, mengatakan bahwa setiap kali mendengar lagu-lagu dari Kapal Udara dia selalu teringat masa kecilnya.

 “ketika mendengar lagu-lagu dari Kapal Udara, saya kembali teringat masa kecilku. Dan lagu kesukaan saya itu adalah Merantau. Atau mungkin juga nanti Kapal Udara mengeluarkan lagu Menikah, Melamar, dll [tertawa]” kata kak Rudy dengan sedikit kegugupan sekaligus tawa.



Ada juga cerita menarik dari salah seorang peserta tentang bagaiamana Kapal Udara mengubah cara pandangnya terhadap pelaku panggung music dengan konsep pertemanan yang diusung oleh Kapal Udara. Ia terkesan karena Kapal Udara tidak memberi batas dirinya, bahwa artis dan penonton seharusnya tidaklah berjarak. Juga cerita tentang bagaimana beberapa orang memilih memutar Kapal Udara sebagai penyemangat harinya, dan cerita tentang kebahagiaan teman-teman Kapal Udara yang mennyaksikan perjalanan susah senang Kapal Udara hingga hari ini dengan semua capaiannya. 

Sesi terakhir adalah Amanah kapal Udara. Sesi ini tidak berisi petuah kapal Udara pada peserta Hening Cipta namun justru adalah sesi dimana Kapal Udara merespon setiap apresiasi yang ia dengar dari semua pesera malam itu. 

Saya tidak menyangka kalau teman-teman sampai di situ mengapresiasi lagu-lagu dari kami. Forum ini juga membuktikan bahwa lagu-lagu kami di apresiasi sampai detik ini dan sejauh ini” buka Dadang  dengan ekspresi wajah sedikit terkejut mewakili Kapal Udara

Berturut,turut, Bobi dan Ayat dengan canggung menyampaikan rasa terima kasih atas apresiasi karya mereka. Lalu Ale  menceritakan dengan lugas dan jujur bagaimana karya Seru dari Hulu lahir. Tentang nilai-nilai yang ingin mereka usung, memang diakuinya tidak melalui proses diskusi dan penelitian yang panjang. Proses itu justru baru dilalui untuk persiapan album selanjutnya yang diharapkan rilis tahun ini.

Sesi ini ditutp oleh Viny, manajer Kapal Udara yang tetiba membangun suasana haru. Tentang bagaiamana Kapal Udara harus tetap bertahan, tentang lingkaran pertemanan yang semakin besar, tentang tanggung jawab,  dan tentang pilihan para personil dan tim Kapal Udara untuk terus berkarya.
“Kapal Udara mi pekerjaanku” begitu salah satu kalimat yang keluar dari cerita Viny.


Hening Cipta bersama Kapal Udara akhirnya ditutup. Setiap orang mungkin pulang dengan suasana hati yang tidak sama, apalagi tanpa dikomando perbincangan mengalir di ranah yang sifatnya personal. Namun ruang ini, khususnya bagi Kapal Udara diharapkan menjadi sumber inspirasi atau pemantik untuk tidak berhenti menemukan formula baru dalam menyampaikan gagasan bermusik mereka. Dan bagi kita pendengar dan penikmat karyanya akan terus mencipta diskursus, pertanyaan, atau kritikan agar karya ini terus dibicarakan.

Hening Cipta…,selesai.
   
Makassar, Januari 2019
Ditulis oleh Zulkifly Ari
Foto oleh Taqwin