Perfect Sense; Sebuah Ajuan Analisis Bencana, Kekuatan Imajinasi dan Perjuangan Kemanusiaan - KEDAI BUKU JENNY

Perfect Sense; Sebuah Ajuan Analisis Bencana, Kekuatan Imajinasi dan Perjuangan Kemanusiaan


Pernahkah kita membayangkan dunia tanpa segala indera pada manusia? Bagaimana manusia saling berinteraksi dan menikmati segala anugerah kehidupan? 
Ada sebuah keyakinan yang sampai hari ini masih begitu kuat kita yakini bahwa pada dasarnya kita hidup di dunia yang saling terkait, kita memiliki ikatan dengan semua orang di dunia ini secara utuh baik untuk hal yang baik atau bahkan pada kondisi terburuk sekalipun. Ini adalah sebuah keniscayaan di peradaban yang sedang kita jalani ini. Salah satu bentuk konektifitas antar manusia ini dapat kita jumpai pada ancaman bencana alam atau penyebaran “virus” yang tidak kita kenal dari satu titik geografis ke titik geografis lainnya dan kemudian memunculkan kepanikan.

Fenomena ini dapat kita saksikan pada sebuah film yang berjudul “ Perfect Sense”, sebuah film yang berkisah tentang seorang koki dan seorang epidemiologis yang diperankan oleh Ewan McGregor dan Eva Green. Kisah berawal ditemukannya sebuah virus yang tak bernama dan kemudian menyebabkan hilangannya kemampuan inderawi pada manusia, penyakit ini dimulai dengan gejala psikis berupa kesedihan yag muncul secara tiba-tiba kemudian kehilangan kemampuan “penciuman”, tak berhenti disitu, gelaja “virus” ini berlanjut pada fase selanjutnya yakni kondisi ketakutan dan hilangnya kemampuan perasa sehingga pada moment ini memunculkan kekacauan akibat manusia yang saling berebut makanan. Fase selanjutnya ialah fase emosi yang meledak tiba-tiba dan hilangnnya kemampaun pendengaran hingga pada fase kehilangan kemampuan inderawi terakhir yakni penglihatan.

Kemunculan “wabah indera” ini di seluruh dunia tentu saja menimbulkan kekacauan. Di berbagai agedan digambarkan kekaucauan sebagai manifestasi luapan emosi yang tak terbendung, ketakutan serta kemarahan yang memuncah secara tiba-tiba. Letupan emosi yang terus berubah mengikuti fase kehilangan kemampuan inderawi begitu kuat mengambarkan ketakutan akan wabah yang terus menular ini. Kemampuan para aktor memerankan setiap adegan menjadi nilai lebih dari film ini, ditambah lagi beberapa cuplikan video aksi ketakutan massa di berbagai negara semakin menguatkan cerita yang hendak disampaikan dalam film ini.

Diakhir film, sepasang kekasih ini menemui titik akhir dari kehilangan segala kemampaun inderawinya hingga hanya mampu asaling meraba dan menikmati gelapnya. Tidak ada yang berubah dari kehiduapn mereka, setiap perubahan fase kehilangan inderwainya yang dimuali dengan letupan emosinya dan kemudian kesadaran untuk terus melanjutkan hidup. Ketika indera perasa dan penciuman tidak berfunsgi lagi, mereka mengandalkan indera pendegaran dan penglihatan dan ketika pendegaran dan penglihatan yang hilang, mereka hanya mampu mengadanlakan imajinasi. Sebuah kemampuan lahiriah yang begitu kuat dalam film ini.

Film “Perfect Sense” tidak hanya menyuguhkan sebuah gambaran ancaman wabah di seluruh dunia, tapi juga mengikat perhatian penikmatnya untuk melihat sisi solidaritas yang terbangun, kisah cinta yang saling membuka diri dan segala sisi lainnya yang mungkin harus kita telaah lebih jauh terutama terkait persoalan ancaman bencana dan dampaknya bagi peradaban yang sedang dijalani saat ini.

Gambaran film “Perfect Sense” atas gejala sosial yang dimunculkan oleh bencana ini pada dasarnya hendak menjelaskan bahwa bencana bagi alam dan manusia selalu menjadi ancaman yang menakutkan bagi kelangsungan peradaban manusia. Kita dengan begitu mudahnya melihat kerusuhan sosial dan kelaparan serta hilangnya nyawa secara radikal dalam waktu singkat. Bencana wabah yang seketika menyebar di berbagai negara baik itu di negara maju maupun negara dunia ketiga yang begitu jauh dari fase kemapanan kondisi ekonomi politik. Point penting yang ditampilkan dalam film ini dalam kerangka ilmiah Studi Hubungan Internasional ialah terancamnya kelangsungan manusia akibat bencana skala global dan fungsi kontrol entitas negara atau institusi politik atas kelangsungan hidup rakyatnya.

Jaminan atas kelangsungan hidup dan perlindungan dari ketakutan, bencana serta segala bentuk fenomena degradasi nilai kemanusian oleh entitas negara adalah point penting dalam aspek ketahanan manusia. Ketahanan manusia atau human security secara teoritis berada dalam kerangka Widening Security Agenda yang wajib dipahami oleh setiap negara melalui mekanisme responsibility to protect jika tidak ingin dilabeli sebagai negara gagal dan digantikan tugasnya oleh negara lain. Agenda perluasan keamanan secara historis muncul pasca Perang Dingin dan meredanya pertarungan dua kubu ideologi, perspesi ancaman telah meluas tidak hanya dalam bentuk konflik politik dan ideologi yang akhirnya berujung pada perang akan tetapi telah bertransformasi menuju persepsi ancaman yang lebih luas. Hal ini didorong oleh semakin kompleksnya relasi dan aktor dalam hubungan internasional. Perluasan agenda keamanan kontemporer menyangkut soal ketahanan ekonomi, kelangsungan lingkungan hidup serta ancaman atas bencana alam dan penyakit menular sehingga secara tidak langsung menempatkan isu bencana sebagai isu global kontemporer yang sejajar dengan ancaman perang dan konflik bersenjata lainnya dengan kesadaran bahwa saat ini perang yang selama ini selalu membawa ketakutan dan kehilangan tidak pernah sepenuhnya hilang akan tetapi berganti rupa dengan bentuk ketakutan yang lain.

Dalam Studi Hubungan Internasional kontemporer, fenomena mewabahnya virus tak bernama ini memaksa adanya upaya penyelesaian dengan menempatkan konsep humanitarian actions sebagai bagian penting dari upaya mempertahankan peradaban. Humanitarian actions pada dasarnya berbicara tentang upaya dan aksi nyata penyelesaian terhadap kondisi yang memicu degradasi kemanusian. Pada film ini, digambarkan upaya meredam dampak dan memulihkan kondisi selama proses penyebaran wabah ini dengan menampilkan para pekerja medis atau relawan yang mendata, membagi makanan dan memastikan adanya masyarakat yang selamat dari bencana tersebut denagn berbagai cara. Kehadiran entitas negara dalam film atau adanya tanggung jawab oleh institusi politik terhadap korban wabah ini yang kemudian melahirkan solidaritas internasional atas bencana tersebut dan secara perlahan telah memapankan konsep kosmopolitan dalam humanitarian actions, yakni segala upaya untuk menempatkan dan menjaga nilai-nilai kemanusian sebagai entitas peradaban.

Film “Perfect Sense” ini memadukan sebuah isu global dalam balutan hubungan cinta melankolia dua tokoh dalam film ini. Di beberapa slide digambarkan situasi gobal yang riuh dan begitu mencekam hingga memunculkan ketakutan global tapi pada akhirnya membawa kita untuk melihatnya dari sisi yang tidak pernah terpikir oleh nalar melainkan oleh imajinasi dan kekuatan cinta dalam artian yang sesungguhnya. Pada beberapa sisi, film ini juga hendak mengajak untuk sejenak berkontemplasi tentang cara kita menikmati kehidupan, menikmati cinta dan pertemanan di sekitar kita dan tentunya juga membuat kita bersyukur atas kemampuan inderawi yang kita miliki.

Tulisan ini mungkin begitu susah untuk dikatakan sebagai sebuah review atas film, mungkin akan lebih tepatnya dikatakan sebagai sebuah “kontemplasi dangkal” atas fenomena yang hendak disampaikan oleh film ini. Tidak hanya soal adegan atau alur cerita yang penuh reka dan imajinasi tapi begitu kental dengan keinginan untuk melihat dan menempatkan nilai kemanusiaan sebagai point pentingnya. Dan pada akhirnya sebagai sebuah keyakinan yang selalu penulis pahami bahwa bahagia itu sederhana; semisal menikmati dan Mensyukuri Indera untuk mencintai kehidupan.

::Asyari Mukrim::

No comments:

Post a Comment