Kami Bersajak - KEDAI BUKU JENNY

Kami Bersajak


Sejak matahari akan beranjak menuju sore, bersama beberapa teman, kami telah menyibukkan diri di garasi yang bulan lalu kami namai Aaron Swartz Garage. Bagian depan garasi tempat hampir setiap hari kami bercengkrama dan menyambut kedatangan banyak teman, kami sulap menjadi serupa panggung pertunjukan sederhana dengan menggantungkan beberapa kain hitam yang menjulur menyentuh lantai dan meletakkan meja rias bercermin lengkap dengan kursi di depannya. Di atas cermin itu ditempel huruf-huruf dari kertas dengan tulisan Sajakkan Saja #1.

Sajakkan Saja memang menjadi salah satu event yang Kedai Buku Jenny adakan bulan ini selain beberapa event lain yang rencananya akan dihelat akhir bulan ini. Sajakkan Saja adalah event pembacaan sajak atau puisi. Acara ini sebenarnya tak begitu berbeda dengan gelaran serupa yang sering kami adakan beberapa tahun lalu, seperti Poem Night (bersama teman-teman mahasiswa HI Unhas), dan Puisi Bulan Purnama (acara ini diadakan di pinggir Danau Unhas bersama teman-teman di Idefix, UKPM Unhas dan siapapun yang mau ikutan). Yang agak berbeda, teman-teman yang hadir di Sajakkan Saja adalah mereka yang terundang. Untuk helatan pertama ini, kami hanya mengundang tak lebih dari 20 orang yang terpilih. Tak bermaksud eksklusif, kami hanya ingin membangun aura gelaran ini menjadi lebih sedikit “serius”dan semua yang terundang benar-benar dapat nge-klik dengan keseluruhan acara. Dan karena itu pula, kami melabeli event ini serupa “Private Gigs”. Oh iya, setelah me-list siapa-siapa saja yang terundang, kami lalu mengirimi mereka sepucuk surat (serius ini...pake sepucuk surat yang kami antar langsung ke mereka yang terundang) ajakan mengikuti acara ini beserta sedikit “agitasi.”

Siapapun yang terundang dan akhirnya mengiyakan ajakan kami, berarti mereka harus mengikuti (serupa) aturan main yang kami buat. Sekali lagi, siapapun. Yang kebetulan kena kewajiban mengantar si dia, atau entah karena alasan apa tiba-tiba saja berada di venue pas acara sedang berlangsung dan mau tidak mau harus nimbrung, semuanya kena kewajiban yang sama. Sederhana saja aturannya, setiap yang hadir hanya boleh membawakan sajak atau puisi cuma sekali. Dan yang penting bahwa sajak itu harus karya sendiri. Tak cukup sampai disitu, si pembaca sajak kami haruskan untuk bercerita apa saja berkenaan dengan sajak yang dibacanya. Strukturnya juga boleh dibalik. Bercerita dulu lalu membaca sajak. 

Di akhir pekan dua minggu lalu (9/2), setelah menundanya beberapa kali akhirnya SajakkanSaja#1 terjadi juga. Hiruk pikuknya sudah dimulai beberapa hari sebelunya saat sepucuk surat siap dihantar ke masing-masing mereka yang terundang. Ada yang kerja di bank, pengusaha katering, yang masih bergelut dengan aktivitas berkuliah, guru dan banyak lagi. Serupa Pak Pos, teman-teman yang dapat tugas menghantar sepucuk surat ini dengan sepenuh hati memastikan ajakan itu sampai ke tangan yang terundang.

Saat malam hendak menua, dibawah lampu yang sengaja kami buat temaram, Story of Peter nya Sarasvati mengalun dari duet suami istri yang sama-sama akrab disapa Komrad yang sekaligus menandai dimulainya sesi bersajak. Satu per satu lalu maju kedepan duduk didepan meja rias lalu kemudian menunjuk yang lainnya juga untuk duduk kedepan, bersajak. Tak semuanya memang membawa sajak untuk dibaca, tapi semuanya “bersajak” dengan caranya sendiri. Bercerita tentang apa saja, dan yang lain begitu khusyuk menyimak. Cerita tentang sahabat, rutinitas yang menjemukan, kisah heroik masa lalu yang kini benar-benar tinggal cerita, mimpi-mimpi yang terus bertemali, kisah tentang ibu yang menanti hari kelahiran jagoannya, dan deretan “sajak-sajak” reflektif lainnya.

Seperti mimpi kami, Sajakkan Saja memang adalah ruang bercerita dan berbagi dan mendengar. Bukankah kita sudah terlalu sering berujar namun tak begitu rela untuk benar-benar memberikan kesempatan kepada telinga untuk “mendengar”. Malam itu kami semua benar-benar berusaha untuk kembali belajar mendengar dan tentunya mengeja kata-kata dengan “sajak.”

Maka, Sajakkan Saja!

Bobhy
Tamalanrea, 20 Februari 2013

No comments:

Post a Comment