Tentang Jenny, Rumah dan Kedai Buku Jenny - KEDAI BUKU JENNY

Tentang Jenny, Rumah dan Kedai Buku Jenny

CERITA ini mestinya telah siap dibagi sejak sebulan lalu, tapi karena sesuatu dan lain hal yang tidak penting-penting amat maka tertundalah adegan terpostingnya cerita dari dunia nyata ini ke dunia yang sepertinya maya. Dan saya harus berterima kasih pada tulisan ini (http://bapakmaha.blogspot.com/2011/11/nama-kedai-buku-itu-jenny.html) karena telah mengingatkan saya untuk kembali menulis cerita yang penting ini, minimal untukku sendiri. Dalam postingan kali ini saya akan sedikit bercerita mengenai beberapa cerita tentang Kedai Buku Jenny, tempatku menghabiskan waktu beberapa waktu terakhir. Begini ceritanya ces…


Jenny dan Kedai Buku Jenny
Kedai Buku Jenny,…hmm… Saya harus jujur, hingga saat ini setelah beberapa bulan berjalan, saya masih sungkan dan segan menggunakan nama Jenny di Kedai buku ini. Saya dan bapaknya maha serta beberapa kawan yang merintis Kedai ini cukup faham betapa berartinya nama “Jenny” bagi orang-orang yang sejak awal melihatnya tumbuh dan besar, lalu kemudian diistirahatkan dan didoakan masuk surga. Dan hingga saat ini, satu-satunya cara agar saya bisa sedikit mengurangi rasa segan dan beban dalam menggunakan nama Jenny adalah dengan menempatkan diri sebagai orang yang juga kehilangan (tapi sudah mengikhlaskannya) dan selalu merindukannya. Lalu mencoba mengabadikan keceriaan Jenny kedalam aktifitas sebuah Kedai Buku sederhana ini. Semoga Kedai Buku sederhana ini benar-benar bisa seceria dan sebandel Jenny.Amin. We Love You Jenny, Beristirahatlah…

Setiap dari kita pasti punya cerita yang berpengaruh bagi kita sehingga ingin memiliki atau berbuat sesuatu,yah,..bisalah disebut cita-cita. Begitu juga kami di Kedai Buku Jenny, Baik saya, K bob, Ridho, dan kawan-kawan yang banyak berkontribusi dalam merintis kedai buku ini pasti punya kisah sendiri yang membuatnya menjadi ingin menekuni dunia per-kedai buku-an. K bob misalnya yang sejak dulu punya sudah memikirkan, merencanakan, dan bahkan beberapa kali merintis sebuah kedai buku (untuk kisah lebih lanjut baca blognya). Begitu juga Ridho’ (seandainya ridho’ buku, dia adalah buku yang dicetak terbatas, bukunya bagus tapi secara komersil tidak menguntungkan jadi dicetak beberapa saja,hahahahah) yang selalu mencari dan menciptakan tempat dimana “Another World is Really Possible”. Dan juga kisah sederhanaku yang ingin jadi punya kedai buku dan menjadi kasirnya setelah menonton film Notting Hill waktu masih SMA. Sebuah film yang pemeran utamanya adalah Hugh Grant dan Julia Robert yang kisahnya berawal dari sebuah toko buku dan berakhir bahagia di sebuah taman,hehehhe…kisah-kisah tersebut menjadi energy yang sulit diukur dan suatu saat bisa mendorong kita untuk mewujudkan apa yang banyak kita kenal sebagai impian atau cita-cita. Jadi ingat-ingatlah kembali cita-cita dan kisah-kisah unik yang mendasarinya, percayalah, teori ini bekerja pada saya.heheeheh

Sebelum memutuskan berhenti bekerja dan melanjutkan kuliah ke Jogja yang istimewa ini, belum banyak hal yang kulakukan untuk membuat toko buku, hanya beberapa kali muncul di pembicaraan ngalor ngidul bersama kawan-kawan di kampus dan sekitarnya. Hingga kemudian, diskusi tentang toko buku menjadi intens dan semakin sering kubahas bersama bapaknya maha. Saya harus berterima kasih karena seingatku bukan saya yang memulai pembicaraan tentang toko buku ini. Kami akhirnya mulai serius menentukan langkah-langkah kecil menuju kesana, membahas konsep dan bla… bla…dan sebuah pesan sampai ponselku, “bagaimana kalau nama toko bukunya Kedai Buku Jenny”?dan langsung kuiyakan dengan membalasnya dengan kata “keren”. Waktu itu yang kupikirkan adalah sebuah kedai buku indie yang juga sekaligus akan menjadi sebuah bentuk apresiasi dan affirmasi atau kesepakatan terhadap nilai-nilai yang diusung band tersebut. Karena kami harus jujur, kami belajar banyak dari Jenny dan Para Teman Pencerita. Jenny seperti sebuah warna terang yang begitu pas ketika masuk ke lukisan perspektif kuyakini. Tapi saya sungguh masih kaget bin tidak menyangka saat kami membeli pesanan buku pertama kali di penerbit Pustaka Pelajar, ternyata sudah sedekat ini. Berkali-kali saya bertanya kepada bapaknya maha “k bob, adami bukunya Kedai Buku Jenny di’?” k bob menjawabnya sekaligus kembali bertanya “iyo, adami di’?” lalu kami kembali tertawa…ahahaahahha…Dengan bantuan banyak kawan Kedai Buku inipun mulai aktif dan beraktifitas di sebuah rumah dengan halaman belakang yang Insya ALLAH cukup untuk berbuat banyak hal.

Rumah dan Kedai Buku Jenny
Kalau saat ini teman-teman berkunjung ke Kedai Buku Jenny, lihatlah kanan-kiri di setiap sudutnya, kalau teman-teman melihat rak buku, ada meja, piano dan perabotan-perabotan lainnya, percaya atau tidak, sebagian besarnya ada dan jadi karena bantuan teman-teman yang kami kenal dari HIMAHI, organisasi yang banyak teman lebih suka menyebutnya sebagai Rumah. Dua buah Rak buku (yang satu lumayan bagus dan yang satunya lagi hampir lumayan bagus) dari bambu itu misalnya, tidaklah kami beli, tapi dikerjakan oleh begitu banyak kawan. Salah satu yang paling direpotkan adalah K’ Arif (HI angkatan 2002), yang waktu itu dia baru saja dating dari Jakarta, dan berkunjung ke Makassar untuk dua misi mulia, yang pertama adalah bertemu sang ehm..ehm..dan satunya lagi adalah bertemu kita semua, keluarganya di Makassar. Berkat  K‘ Arif-lah akhirnya kami memperoleh bambu gratis dan dia bersama k dave juga bersedia direpotkan untuk membantu kami membuat rak tersebut, dari memotong bamboo hingga menyusunnya menjadi sebuah rak.

Belum lagi teman-teman yang membantu banyak dalam distribusi bambu itu dari dekat jalan tol hingga ke kedai buku, ada K endri yang ditengah kesibukannya mengajar, masih menyempatkan diri ikut menggergaji bamboo, benji dan mobilnya, dan kawan-kawan yang capek angkat-angkat sana-sini seperti Adit, Eki, Ignas, Awal, dan Zaki. Karena proses kerjanya yang berkualitas itulah rak buku itu (terutama yang buat perpustakaan) sungguh berarti menurutku,hheheheh. Itu baru tentang rak buku, belum lagi adegan bersih-bersihnya yang berhari-hari bersama eka, muji, ari, iccank, parman, radit, evan, Michael, ikki’ dan begitu banyak teman dari rumah (akan kuceritakan dipostingan yang lain). dan setiap hal di Kedai buku pasti punya ceritanya sendiri dengan para penghuni rumah. (Mudah-mudahan semua cerita itu sempat kami dokumentasikan dan share)

Seingatku, baik ketika masih menjadi ide ataupun saat berusaha mewujudkannya, pembahasan mengenai Kedai Buku Jenny memang tak pernah lepas dari pembicaraan tentang Kalau ada yang bertanya kenapa bisa? Dan butuh jawaban segera, Saya bakal jawab, nda tahuka’ juga cessusah sekali dilupa, kayak rumahmi bela…tapi kalau yang bertanya itu punya banyak waktu untuk mendengarkan, maka bersiap-siaplah karena akan kujelaskan sepanjang dan selebar mungkin.hahahhaha. Yang jelas pembahasan mengenai rumah ini selalu saja menyusup dalam setiap rencana. Bahkan kalau mau ditelusuri lebih jauh, salah satu motivasi paling besarnya kedai buku ini adalah keinginan untuk tetap berkontribusi pada rumah penuh berkah itu dalam peran yang lain,sederhananya kita masih ingin melakukan banyak hal di rumah tersebut. Mungkin karena teman-teman yang menginisiasi kedai buku ini semuanya pertama kali bertemu di Rumah tersebut atau dalam kurun waktu yang cukup lama sering ngumpul sambil belajar dan bergunjing, juga saling maccalla, saling bantu dan tentu saja saling merepotkan,, ,wkkwkwkwk. (Saat ini bahkan cerita-cerita dan kisah-kisah nyata yang keren itu coba didokumentasikan oleh kawan-kawan melalui http://rumahi.tumblr.com/ , salah satu cara yang pas untuk menyelematkan memori kita di Rumah itu).


Terima Kasih untuk banyak hal dan terima kasih karena selalu menghantui (baca: karena selalu hadir disetiap rencana hidup kami)…Mudah-Mudahan Kedai Buku Sederhana ini bisa Bermanfaat…

disadur dari http://sawingbahar.wordpress.com/2011/11/27/tentang-jenny-rumah-dan-kedai-buku-jenny/

No comments:

Post a Comment