Membaca dan Merayakan Kesetaraan - KEDAI BUKU JENNY

Membaca dan Merayakan Kesetaraan




Judul: Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme
Pengarang: Martin Suryajaya
Penerbit: Resist Book
Halaman: 300 + xxii
Tahun terbit: Agustus 2011


Sedikit tentang Kesetaraan dari Buku Martin Suryajaya
Beberapa bulan yang lalu, sekitar bulan juli atau agustus, seorang kawan dikosan kami dengan penuh semangat memberi tahu kabar gembira tentang telah terbitnya sebuah buku berjudul “Alan Badiou dan Masa Depan Marxisme”. Seingatku, diwaktu yang sama di beberapa media social dan forum diskusi di internet juga telah men-share informasi tentang buku ini. Bonnie Setiawan misalnya yang menyebut buku ini sebagai “tonggak baru dalam pembacaan marxisme” (dikutip di status facebooknya), atau beberapa komentar lainnya yang bersemangat dan juga penasaran menyambut buku ini. Ini pendapat pribadi, tapi menurutku Gunawan Lestari Elake-lah manusia paling antusias dalam menyambut terbitnya dan menceritakan isi buku ini. Tingkat antusiasmenya bisa dibilang setingkat lebih tinggi dari remaja-remaja yang menunggu terbitnya buku serial Harry Potter atau para Fans pemuja buku Ayat-Ayat Cinta yang selalu mengklaim mendapat inspirasi dari buku itu. Bahkan harus kuakui, lelaki asal Indonesiana (salah satu desa/kota di Ternate) ini mengalahkan tingkat antusiasmeku secara telak saat saya sedang menunggu dan menonton Mongol dan Soleh Solihun berdiri dan melucu di layar kaca. Dan berkat segala macam presentasi dan provokasinya tersebut akhirnya sayapun yakin bahwa buku ini penting dan memang layak dibaca.



Singkat cerita,..sayapun akhirnya mulai membaca buku ini dan benar kata Mas Gun,buku ini menarik dan sungguh penting. Bagian awal dari buku ini menjelaskan tentang Badiou (Pemikir Marxis yang berdomisili di Perancis) dan peristiwa serta pemikir-pemikir yang berpengaruh terhadapnya. Dan Pemikir itu salah satunya adalah Louis Althusser, guru Alan Badiou dan salah satu pemikir yang menurutku pemikirannya sangat khas dan Insya ALLAH relevan untuk menjelaskan banyak hal yang terjadi hari ini. Salah satu BAB (Louis Althusser dan Penemuan Kembali Marxisme Ilmiah ) dalam buku ini bahkan diberi tugas untuk menguraikan pokok-pokok pemikiran dan metode dari Althusser. Hal ini tentunya penting karena pendasaran pemikiran Badiou yang paling berpengaruh memang adalah Rekonstruksi Marxisme oleh Louis Althusser. Althusser adalah satu diantara sekian banyak pemikir marxis yang bukan hanya ingin mengembangkan Marxisme tapi juga berusaha untuk memurnikannya. Menurutku, yang dilakukan Althusser ini serupa dengan upaya yang dilakukan oleh Sayyid Qutb yang juga berusaha memurnikan ajaran islam. Semoga keduanya mendapat tempat yang layak disisi-NYA.Amin.

Itu sedikit pengantar sebelum masuk pada gagasan kesetaraan dalam buku ini, meski ada banya bagian yang tidak kujelaskan seperti bagian mengenai methodology matematik Badiou yang belum kubaca atau kumengerti seluruhnya, sebaiknya teman-teman membacanya sendiri. Ok…mari kita lanjutkan cerita tentang kesetaraan. Dalam buku ini, saya menemukan pembahasan menarik tentang ide kesetaraan dan eksperimentasinya. Apa yang disebut dalam buku ini sebagai “Ide Murni tentang Kesetaraan”, yakni hipotesis Komunisme. Disini dijelaskan bahwa substansi dari ide ini telah diperjuangkan sejak lama, itu bisa kita lihat dalam pemberontakan budak Roma yang dipimpin oleh Spartakus atau gerakan petani jerman yang diorganisasikan oleh Thomas Munzer. Eksperimentasi selanjutnya untuk mewujudkan kesetaraan juga diuraikan dalam buku ini seperti Komune Paris, Revolusi Bolshevik, dan Revolusi Kebudayaan. Buku ini juga menjelaskan dengan menarik mengenai masa depan ide kesetaraan ini. Dari beberapa paragraph mirip resensi, saya mencoba menjelaskan salah satu bagian penting dari buku ini adalah bahwa penting kembali melihat kanan-kiri, benarkah kita sekarang berada dalam dunia yang setara. Dan untuk pelajaran lebih banyak, bacalah sendiri buku ini…heheheh, untuk teman2 yang berada di Makassar dan ingin mengakses atau memilikinya, berkunjunglah ke Kedai Buku Jenny (BDP Blok S, No.5).

Merayakan Kesetaraan di sebuah Panggung
Nah, sekarang kita beralih kepada tempat belajar yang lain, belajar dari sebuah panggung. Belajar memang bisa dimana saja kan? Kalimat yang sering diucapkan seorang kawan dan saya sepenuhnya setuju dengan kalimat tersebut. Beberapa waktu terakhir, saya bersama Bapaknya Maha dan kawan-kawan yang lain sering berkunjung ke sebuah panggung untuk merayakan banyak hal, merayakan apa saja hari itu, dan yang paling penting adalah merayakan kesetaraan. Yah, setara dan kesetaraan, kata itu berulang kali kudengar disampaikan oleh seorang di atas panggung disela-sela lagu-lagu keren yang mereka bawakan. Kelihatan seperti demonstran yang sedang berorasi, saya dan banyak orang mendengarkan, untuk banyak hal saya bersepakat tapi yang pasti saya belajar dari panggung itu dan tentu saja ikut menyanyi, berteriak dan berjingkrak saat lagu-lagu berisik itu kembali dimainkan.

Panggung itu adalah panggung para Festivalist, Kalau teman-teman sering berkunjung ke blog remeh temeh ini pasti pernah membaca beberapa tulisan tentang Jenny, sebuah band indie yang lahir dan bertempat tinggal di kota jogja, Yah sekarang Jenny sudah menjadi Festivalist, seperti kita semua yang sering beredar di festival-festival. Sebuah band, yang kemudian semakin lama melihat dan memperhatikannya kita akan sadar bahwa ternyata Jenny bukanlah sekedar sebuah band, dalam sebuah diskusi santai mereka bahkan menyebutnya sebagai sebuah keluarga yang salah satu aktifitasnya kebetulan adalah nge-band. “Kita 1 jam dipanggung, 1-2 jam latihan band dan sisanya adalah hidup seperti biasa, hidup sebagai keluarga”. Kalau kucini’-cini’ (melihat-lihat dalam bahasa makassar), cara memandang seperti ini juga yang kudapatkan dari sebuah keluarga di HIMAHI.


Begitulah para Festivalist merayakan kesetaraan di Panggung yang Rendah, Luas , Terang dan Tanpa Barikade. Merayakan dengan melebur bersama, tak ada lagi “yang lain”, hanya festivalist yang bernyanyi dan berjngkrak bersama saat lagu dimainkan lalu mengobrol apa saja setelahnya bahkan tingkat yang paling ekstrim adalah saling meludahi agar tak ada lagi sekat antara yang di atas dan dibawah panggung (meski sudah tidak terlalu sering dilakukan). Khusus adegan saling meludahi ini, saya mengerti dan bersepakat dengan spiritnya tapi karena belakangan saya agak malas nyuci baju jadi saya tidak sering-sering ikut larut dalam item perayaan ini,hehehhe. Tapi apapun itu, saya tetap suka kata-kata ini “cuih, we love you”. Banyak yang sedang berjalan bahkan berlari menuju kesetaraan, dan sebaiknya setiap dari kita memastikan kita juga berada dalam rombongan besar menuju kesana. Kalau ingin memastikannya, mungkin kita harus memeriksa kembali arah dan cara yang kita tempuh sekarang tapi yang pasti kita tidak akan sendiri menuju kesana karena dari cerita Martin Suryajaya dan Festivalist yakinlah kita tidak sedang berjalan sendiri.

disadur dari http://sawingbahar.wordpress.com/2011/11/26/membaca-dan-merayakan-kesetaraan/

No comments:

Post a Comment